Beranda Liputan Khusus Opini Refleksi Hari Kelahiran Pancasila dalam Konteks Globalisasi dan Dinamika Sosial

Refleksi Hari Kelahiran Pancasila dalam Konteks Globalisasi dan Dinamika Sosial

392
0
Penulisan Chandra Dinata Dosen Universitas Merdeka Malang
Keterangan Gambar : Chandra Dinata

DETIKEPRI.COM- Opini,  Tanggal 1 Juni selalu menjadi momen penting bagi bangsa Indonesia. Pada hari ini, kita memperingati Hari Kelahiran Pancasila, dasar negara yang menjadi fondasi dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila tidak hanya sekadar simbol negara, melainkan juga menjadi panduan moral dan etika bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam konteks globalisasi dan dinamika sosial yang semakin kompleks, penting bagi kita untuk merefleksikan bagaimana Pancasila dapat menjadi akar bagi masyarakat inklusif di Indonesia. Globalisasi telah membawa perubahan besar dalam tatanan ekonomi, politik, dan budaya, yang sering kali mempengaruhi nilai-nilai lokal dan identitas nasional.

Fenomena ini dapat dilihat melalui peningkatan arus informasi, mobilitas manusia, dan integrasi ekonomi global yang dapat mengikis nilai-nilai tradisional dan menimbulkan tantangan terhadap identitas nasional (Giddens, 1990).

BACA JUGA :  Jeritan Rakyat Bawah, Antara Dukungan dan Perjuangan Sendiri

Pancasila, dengan lima silanya, menawarkan landasan yang kuat untuk mempertahankan identitas nasional sekaligus mempromosikan inklusivitas dalam masyarakat. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menegaskan pentingnya penghormatan terhadap berbagai keyakinan agama di Indonesia, menciptakan kerangka toleransi yang memungkinkan keberagaman agama dapat hidup berdampingan dengan harmonis.

Ini sangat relevan dalam konteks globalisasi yang sering kali membawa pengaruh budaya dan agama yang berbeda (Amal, 2017). Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, menggarisbawahi prinsip keadilan sosial dan penghormatan terhadap martabat manusia, yang esensial dalam menghadapi isu-isu ketidakadilan global dan diskriminasi.

Dalam era digital, di mana informasi dapat dengan cepat menyebar, penting untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan untuk melawan hoaks dan ujaran kebencian yang dapat memecah belah masyarakat (Castells, 2009). Sila ketiga, Persatuan Indonesia, menjadi perekat yang sangat penting di tengah-tengah keberagaman etnis, budaya, dan bahasa di Indonesia.

BACA JUGA :  Jeritan Rakyat Bawah, Antara Dukungan dan Perjuangan Sendiri

Globalisasi dapat menyebabkan fragmentasi sosial jika tidak diimbangi dengan upaya untuk memperkuat persatuan nasional. Pancasila mengajarkan bahwa keberagaman adalah kekayaan yang harus dirawat, bukan dijadikan sumber konflik (Habermas, 2001). Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, mendorong demokrasi yang partisipatif dan inklusif.

Dalam konteks global, di mana demokrasi liberal sering kali terancam oleh populisme dan ekstremisme, prinsip-prinsip demokrasi Pancasila dapat menjadi model alternatif yang menekankan musyawarah dan mufakat sebagai cara untuk mencapai keputusan yang adil bagi semua pihak (Dahl, 1998).

Dan sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menekankan pentingnya pemerataan kesejahteraan dan keadilan sosial. Globalisasi sering kali memperlebar kesenjangan ekonomi antara kaya dan miskin, tetapi Pancasila mengajarkan bahwa keadilan sosial adalah fondasi utama untuk mencapai masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan (Sen, 1999).

BACA JUGA :  Jeritan Rakyat Bawah, Antara Dukungan dan Perjuangan Sendiri

Refleksi atas nilai-nilai Pancasila dalam konteks globalisasi ini menunjukkan bahwa Pancasila tidak hanya relevan sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai panduan moral dan etika dalam menghadapi tantangan global. Dengan menginternalisasi nilai-nilai Pancasila, Indonesia dapat membangun masyarakat yang inklusif, adil, dan harmonis di tengah arus globalisasi yang terus berubah. Oleh sebab itu, tulisan ini memberikan gagasan tentang Pancasila Sebagai akar dari inklusifitas, sebagai sebuah refleksi kekinian keberadaan Pancasila yang bukan saja sebagai dasar dan pondasi kenegaraan tetapi menginternalisasi nilai-nilainya kedalam seluruh lini kehidupan sebagaimana yang dicanangkan oleh founding father bangsa Indonesia.