Beranda Sejarah Seni & Budaya 2 April Dalam Sejarah : Gegara Cornelis de Houtman Awal Indonesia Dijajah...

2 April Dalam Sejarah : Gegara Cornelis de Houtman Awal Indonesia Dijajah Belanda

636

Dibeberkan oleh Russell Shorto dalam Amsterdam: A History of the World’s Most Liberal City (2013), hanya dalam tempo enam bulan sejak keberangkatan, lebih dari seperempat orang yang ikut dalam ekspedisi ini harus kehilangan nyawa.

Cornelis dan kru tampaknya tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi iklim dan alam tropis yang jauh berbeda dengan kondisi di Belanda. Satu per satu awak kapal bergelimpangan, pingsan lantaran kehausan dan tidak tahan dengan cuaca panas khas kawasan tropis.

Menemukan Nusantara
Setelah lebih dari berbulan-bulan mengarungi samudera luas dengan aneka macam rintangan yang amat mengerikan, akhirnya armada Cornelis de Houtman berlabuh di Banten pada 27 Juni 1596. Saat tiba, hanya 249 orang yang selamat sampai di tujuan.

Cornelis dan para saudagar besar beserta kru mengenakan gelar kemiliteran untuk menambah wibawa mereka menghadapi orang-orang di tanah yang baru mereka temukan itu. Harapannya, kehadiran mereka bisa diterima, bahkan dihormati oleh tuan rumah.

Jurrien & Foskelien van Goor dalam Prelude to Colonialism: The Dutch in Asia (2004) menyebutkan, orang-orang Belanda yang sejatinya berprofesi sebagai pedagang itu banyak yang memakai gelar kapten atau laksamana. Sedangkan Cornelis memilih gelar kapten mayor (hlm. 27).

Merapat di bandar dagang milik Kesultanan Banten, Cornelis terperangah melihat suasana pelabuhan yang ternyata riuh oleh kesibukan. Kotanya pun besar dan cukup ramai, bahkan tidak jauh berbeda dengan kota tersibuk di negeri Belanda, Amsterdam.

William Lodewijk, saudagar Belanda yang ikut dalam rombongan Cornelis, seperti dikutip dari buku Ragam Pusaka Budaya Banten (2007) karya Tri Hatmadji, menghitung paling tidak ada 36 kapal asing yang sedang singgah dan berlabuh di Banten kala itu (hlm. 142).

Dalam pengamatan Lodewijk dan Cornelis, sebagaimana dikutip dari buku Catatan Masa Lalu Banten (1993) yang disusun Halwany Michrob dan ‎A. Mudjahid Chudari, pusat pemerintahan Kesultanan Banten tertata dengan baik dan rapi, dikelilingi oleh tembok lebar dari bata merah (hlm. 87).

Luas kota ini kira-kira nyaris setara dengan Amsterdam, dan seperti ibukota Belanda itu, di Kota Banten juga terdapat banyak kanal yang seluruhnya bisa dilayari. Kapal-kapal Belanda yang ditumpangi Cornelis, juga semua kapal asing, wajib memasuki pintu gerbang khusus dan harus membayar ongkos masuk.

Tinggalkan Balasan