Beranda Liputan Khusus Opini Pancasila sebagai Pilar Demokrasi, Perekat Persatuan, dan Visi Keumatan Menuju Masyarakat Rahmatan...

Pancasila sebagai Pilar Demokrasi, Perekat Persatuan, dan Visi Keumatan Menuju Masyarakat Rahmatan Lil Alamin

166
0

DETIKPERI.COM, OPINI – Pancasila, sebagai dasar negara Indonesia, memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sejak pertama kali dicetuskan, Pancasila telah diakui sebagai pilar demokrasi, perekat kesatuan, dan visi keumatan yang membawa masyarakat menuju rahmatan lil alamin, yaitu masyarakat yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Artikel ini akan menganalisis peran Pancasila dalam ketiga aspek tersebut dengan bahasa akademis dan analitis. Pancasila sebagai Pilar Demokrasi Pancasila, dengan sila keempatnya, yaitu “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan /Perwakilan,” menjadi landasan utama dalam praktik demokrasi di Indonesia.

Demokrasi Pancasila mengedepankan prinsip musyawarah dan mufakat, di mana keputusan diambil berdasarkan hikmat kebijaksanaan kolektif. Dalam konteks ini, Pancasila tidak hanya mempromosikan demokrasi prosedural tetapi juga demokrasi substansial yang menitikberatkan pada keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat.

Dalam praktiknya, Pancasila mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam proses politik dan pengambilan keputusan. Demokrasi Pancasila berbeda dengan demokrasi liberal yang berfokus pada kebebasan individu tanpa batas. Sebaliknya, demokrasi Pancasila menyeimbangkan antara hak-hak individu dan kepentingan kolektif, sehingga tercipta harmonisasi antara kebebasan dan tanggung jawab sosial.Pancasila sebagai Perekat Kesatuan Sila ketiga Pancasila, “Persatuan Indonesia,” menegaskan pentingnya kesatuan dalam keberagaman. Indonesia sebagai negara yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras, dan golongan, memerlukan suatu ikatan yang kuat untuk menjaga integritas nasional. Pancasila berfungsi sebagai perekat yang menyatukan seluruh elemen masyarakat dengan mengakui dan menghormati perbedaan yang ada.

Konsep Bhineka Tunggal Ika, yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu,” diinternalisasikan dalam Pancasila sebagai bentuk penghargaan terhadap pluralitas bangsa. Melalui Pancasila, perbedaan bukanlah sumber konflik, melainkan kekayaan budaya yang harus dijaga dan dihormati. Dalam konteks globalisasi yang sering kali membawa pengaruh fragmentasi sosial, Pancasila berperan sebagai benteng yang menjaga kesatuan dan keutuhan bangsa.Pancasila sebagai Visi Keumatan Pancasila juga memiliki dimensi keumatan yang signifikan. Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa,” mengakui eksistensi Tuhan dan menempatkan nilai-nilai keagamaan sebagai landasan moral kehidupan berbangsa. Pancasila tidak memihak pada agama tertentu, tetapi menghargai dan melindungi kebebasan beragama bagi seluruh rakyat Indonesia.

Visi keumatan dalam Pancasila mendorong terciptanya masyarakat yang rahmatan lil alamin, yakni masyarakat yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Prinsip ini sejalan dengan ajaran agama-agama yang ada di Indonesia, yang mengajarkan kasih sayang, keadilan, dan perdamaian. Implementasi visi ini tercermin dalam upaya-upaya pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, di mana kesejahteraan manusia dan kelestarian alam menjadi prioritas utama.

Pancasila sebagai dasar negara Indonesia berfungsi sebagai pilar demokrasi, perekat kesatuan, dan visi keumatan menuju masyarakat rahmatan lil alamin. Melalui Pancasila, demokrasi di Indonesia berkembang dalam kerangka musyawarah dan mufakat yang menyeimbangkan hak-hak individu dengan kepentingan kolektif. Pancasila juga mengukuhkan persatuan bangsa di tengah keberagaman dan mengarahkan masyarakat menuju kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan yang inklusif.