Beranda Internasional Negara-Negara Yang Mengembalikan Sampah Ke Negara Pengirim

Negara-Negara Yang Mengembalikan Sampah Ke Negara Pengirim

158
0
BERBAGI
Tumpukan Sampah Plastik, Masalah baru setiap negara | Photo : Ist/Net

DETIKEPRI.COM, LINGKUNGAN – Persoalan selalu menjadi persoalan yang berat bagi setiap daerah ataupun negara itu sendiri, pengelolaan sampah yang harus mengeluarkan budget dana yang cukup besar sehingga mengambil keputusan untuk membuang sampah pada negara lain yang siap menerimanya.

Lantas apakah keputusan ini dipandang lebih efektif dibandingkan dengan mengelola sampah dengan baik, ada beberapa negara yang melakukan ekspor sampah dinegara tertentu dan bahkan mereka berani membayar lebih mahal agar sampah tersebut dapat di terima oleh negara tujuan.

BACA JUGA :  Dovizioso Terdepan di FP1 Motogp Malaysia, Yamaha Tiga Besar

Pada Mei lalu, Filipina mengirim berton-ton sampah kembali ke Kanada, setelah kedua negara terlibat perseteruan diplomatik yang ditandai oleh ancaman Presiden Rodrigo Duterte bahwa dirinya akan “berlayar ke Kanada dan membuang sampah mereka di sana”.

Selain Filipina, ada sejumlah negara yang mendesak negara-negara pengirim sampah untuk mengambil kembali limbah mereka.

Dilansir dari bbc.com Praktik pengiriman sampah yang bisa didaur ulang ke luar negeri dilakoni negara-negara kaya karena biayanya murah, membantu memenuhi target pendauran ulang, serta mengurangi beban tempat pembuangan akhir.

BACA JUGA :  Mahathir Mohamad Vs Najib Razak, Siapa Pemenang Pemilu Malaysia?

Di sisi lain, bagi negara berkembang, menerima kiriman sampah berarti ada uang yang bisa didulang.

Masalahnya, sampah plastik dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang tidak bisa didaur ulang kadang bercampur dalam kiriman sampah dan berujung di tempat pemrosesan limbah yang ilegal.

Di mana saja kejadian ini berlangsung dan apa saja langkah yang diambil?

sumber : bbc

Uni Eropa adalah eksportir terbesar sampah plastik, sedangkan Amerika Serikat adalah eksportir terbesar dalam kategori negara.

Kenyataannya, dari semua plastik yang diproduksi, hanya segelintir yang didaur ulang.

BACA JUGA :  Mahatir Muhammad, Klaim Menang di Pemilu Malaysia

Bahan yang tidak bisa didaur ulang kerap dibakar secara ilegal, ditimbun di tempat pembuatan akhir atau sungai sehingga menimbulkan ancaman bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Kekhawatiran menerima limbah semacam itu telah mendorong sejumlah negara untuk beraksi.

Sebagaimana dicontohkan di atas, Filipina mengirim balik berton-ton sampah ke Kanada yang dikirim pada 2013 dan 2014. Filipina mengklaim sampah-sampah itu diberi label daur ulang plastik ketika dikirim ke Manila pada 2014.

Baca Halaman Berikutnya
Komentar
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here