Beranda Liputan Khusus Sejarah dan Budaya Sejarah Islam Periodik Klasik Oleh Prof. Dr. Hasan Asari, MA

Sejarah Islam Periodik Klasik Oleh Prof. Dr. Hasan Asari, MA

1151
0
Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). (Foto: Ilustrasi/Hidayatullah)

DETIKEPRI.COM, SYIARSejarah Islam periode klasik membentang enam setengah abad, yakni dari tahun 600 hingga tahun 1258 dalam penanggalan Masehi. Dalam rentang waktu ini, wahyu Islam diterima oleh Nabi Muhammad S.A.W dan kemudian menjadi fondasi bagi perkembangan masyarakat dan peradaban Islam ke abad-abad berikutnya.

Dalam periode klasik ini umat Islam berhasil membangun satu sistem politik yang sangat maju dan kuat. Begitu pula umat Islam berhasil membangun satu aktivitas keilmuan yang mengagumkan, dan terbaik di zamannya. Dengan sistem politik yang mapan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, umat menjadi penguasa ekonomi dunia.

Perkembangan Keagamaan

Sejarah Islam bermula dengan peristiwa turunnya wahyu Al-Qur’an dari Allah S.W.T kepada Nabi Muhammad S.A.W pada 611 Masehi.

Ayat-ayat Al-Qur’an turun secara berangsur dalam waktu lebih dari dua dekade, sebagiannya di Makkah yang lainnya di Madinah.

BACA JUGA :  Kilas Balik 107 Tahun Yang Lalu, Sultan Riau Lingga Meninggalkan Penyengat

Praktis, Nabi Muhammad S.A.W tidak pernah berhenti menerima wahyu dari Allah S.W.T selama karirnya, mulai dari berusia 40 tahun hingga wafatnya di usia 63 tahun.

Nabi Muhammad S.A.W berusaha sangat keras memperkenalkan Islam kepada penduduk kota Makkah dan mengajak mereka mengimani Islam agama baru tersebut.

Satu dekade permulaan dakwahnya merupakan tahun-tahun yang sangat sulit, sedemikian sulit sehingga memaksanya untuk hijrah ke utara menuju kota Madina (semula bernama Yatsrib).

Hijrah ke Madina ini (622) menjadi titik balik bagi usaha dakwah Nabi Muhammad S.A.W, Madina ternyata lebih terbuka menyabut dakwahnya dan sejak itu episode keberhasilan agama Islam dimulai.

Beberapa tahun setelah di Madina, mayoritas masyarakat sekitarnya telah menerima Islam dan meninggalkan agama keberhalaan mereka yang lama.

BACA JUGA :  Ayam Geprek Mbak Yuk, Usaha Rumahan Rasa Restoran, Diminati Pelanggan

Pada tahun 629 Makkah, kota yang tadinya memusuhi dan mengusirnya berhasil di taklukan, dan penduduknya menyatakan keislaman mereka.

Maka ketika Nabi Muhammad S.A.W wafat pada 632 dapat dikatakan hampir seluruh jazirah Arabiah telah memeluk agama Islam.

Islamisasi yang dilakukan pada masa Nabi Muhammad S.A.W dilanjutkan oleh para sahabat dan pengikutnya. Di penghujung hidupnya, sudah ada rencana perluasan pengaruh Islam ke Syria di utara.

Hal ini kemudian dilaksanakan secara antusias di masa kepemimpinan Abu Bakar Al-Shiddiq (632-634) dan Umar bin Al-Khatathab (6344-644).

Pada masa Umar pengaruh Islam meluas ke arah barat, yakni Yordania dan Palestina dan kemudian berlanjut ke Mesir.

Di bawah kepemimpinan Utsman bin Affan (644-656) pengaruh Islam mengarah ke timur mencakup wilayah persia, bahkan mencapai perbatasan Afghanistan dan Cina.

Arus perluasan pengaruh agama Islam mengalami perlambatan pada masa kepimpinan Ali Bin Abi Thalib (656-661) yang memang tidak terlalu stabil. Demikian juga semasa kekuasaan Dinasti Umayyah (661-750) yang harus menghabiskan energi untuk konsolidasi dan stabilisasi kekuasaannya.

BACA JUGA :  Timnas Korea Selatan Pecundangi Timnas German Skor 2-0

Akan tetapi, perluasan pengaruh agama Islam dan kepenganutannya kembali mengalami akselerasi yang sangat tinggi pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyyah (750-1258).

Dinasti Abbasiyah memang hanya solid pada sekitar setengah dari masa kekuasannya. Akan tetapi perluasan pengaruh Islam sama sekali tidak diperlambat oleh kurang solidnya Abbasiyyah, sejak pertengahan abad ke-10.

Dinasti-dinasti yang lebih kecil yang secara normatif mengakui supremasi Abbasiyyah di bidang agama, melakukan tugas perluasan Islam secara baik ke seluruh penjuru alam.

Dalam kenyataannya dinasti-dinastikecil tersebut meluaskan pengaruh Islam ke sudut-sudut dunia yang hampir mustahil dijangkau secara langsung dari Baghdad.