Beranda Syiar Islam Tausiah Puasa Ke-21 : Wajibnya I’tikaf Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

Tausiah Puasa Ke-21 : Wajibnya I’tikaf Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

902
0
BERBAGI
Foto : Ilustrasi

DETIKEPRI.COM, SYIAR ISLAM – Bagaikan sayur tanpa garam. Begitulah ungkapan yang sering kita dengar apabila sepuluh hari terakhir pada Ramadan tidak mengerjakan i’ktikaf. Sekiranya tidak dicontohkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka nabi tidak akan meninggalkan istrinya dan keluarganya untuk i’tikaf selama sepuluh hari.

Berdasarkan dalil yang kuat, i’tikaf memiliki tujuan agung, yakni untuk menjemput malam lailatul qadar. Keutamaan ibadah yang dilakukan dalam lailatul qadar adalah lebih baik daripada 1.000 bulan. Salah satu tujuan i’tikaf itu untuk menggapai malam lailatul qadar.

Yang paling utama jika i’tikaf dilakukan pada sepuluh hari terakhir dari di bulan Ramadan. Malam ini, Selasa 5 Juni 2018 adalah malam ke-21 Ramadan 1439 Hijriah. Mudah-mudahan kita diberikan jalan untuk melakukan ibadah i’tikaf tersebut demi mencontoh sunah Nabi Muhammad.

BACA JUGA :  Tausiah Ke-15 : Jalan Menuju Allah S.W.T

Hadis yang disebutkan Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom nomor 699 tentang permasalahan i’tikaf.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat (Muttafaqun ‘Alaih | HR. Bukhari No. 2026 | HR. Muslim No. 1172).

BACA JUGA :  Tim Dinkes Turun Ke Pedagang Takjil, Pastikan Menu Buka Puasa Aman

Dari penjelasan hadis di atas adalah anjuran i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam terus merutinkan hal ini sampai beliau meninggal dunia. Hikmah dikhususkan sepuluh hari terakhir dengan i’tikaf dapat dilihat pada hadis Abu Sa’id Al Khudri di mana nabi bersabda;

« إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ ». فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ

BACA JUGA :  Lagi Hamil Boleh Gak Puasa, Yuk Baca Penjelasanya

Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadan yang pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar pada malam tersebut. Kemudian aku beri’tikaf di pertengahan bulan, aku datang dan ada yang mengatakan padaku bahwa lailatul qadar itu di sepuluh hari yang terakhir. Siapa saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah. Lalu di antara para sahabat ada yang beri’tikaf bersama beliau (HR. Bukhari No. 2018 | Muslim No. 1167).

Baca Halaman Berikutnya
Komentar
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here