Beranda Syiar Islam Inilah Kisah Nusaibah Binti Ka’ab Radhianlahu Anha, Wanita Perkasa, Kematiannya...

Inilah Kisah Nusaibah Binti Ka’ab Radhianlahu Anha, Wanita Perkasa, Kematiannya Disambut Ribuan Malaikat

396
0
BERBAGI
Inilah Kisah Nusaibah Binti Ka'ab Radhianlahu Anha, Wanita Perkasa, Kematiannya Disambut Ribuan Malaikat | Photo : ilustrasi/ist
Inilah Kisah Nusaibah Binti Ka'ab Radhianlahu Anha, Wanita Perkasa, Kematiannya Disambut Ribuan Malaikat | Photo : ilustrasi/ist

DETIKEPRI.COM, SYIAR ISLAM – Kisah ini mungkin telah sering kita dengar. Namun, sekedar mengingatkan kembali tentang perjuangan wanita mulia ini, semoga dapat mengembalikan ghairah kita untuk juga bisa menteladani beliau, wanita yang ‘berhati waja’.

Nusaibah Binti Ka’ab radhiyallahu anha, namanya tercatat dalam tinta emas penuh kemuliaan.
Bahkan [email protected] mengundang ribuan malaikat untuk menyambutnya.

Inilah Kisah Nusaibah Binti Ka'ab Radhianlahu Anha,  Wanita Perkasa,  Kematiannya Disambut Ribuan Malaikat
Inilah Kisah Nusaibah Binti Ka’ab Radhianlahu Anha, Wanita Perkasa, Kematiannya Disambut Ribuan Malaikat | Photo : ilustrasi/ist

Hari itu Nusaibah sedang berada di dapur. Suaminya, Said sedang beristirahat di bilik tempat tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nusaibah menerka, itu pasti tentara musuh.

Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di kawasan Gunung Uhud. Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang sedang dilakukannya dan masuk ke bilik. Suaminya yang sedang tertidur dengan halus dan lembut dikejutkannya.

“Suamiku tersayang”, Nusaibah berkata, “Aku mendengar pekik suara menuju ke Uhud. Mungkin orang-orang kafir telah [email protected]

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Dia menyesal mengapa bukan dia yang mendengar suara itu. Malah isterinya. Dia segera bangun dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu dia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Dia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang.”

Said memandang wajah isterinya. Setelah mendengar perkataannya itu, tak pernah ada keraguan padanya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju ke utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu semakin mengobarkan keberanian Said.

Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang nampaknya sangat gugup.

“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru sahaja gugur di medan perang. Beliau syah1d…”

Baca Halaman Berikutnya
Komentar
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here