Beranda Daerah Terjadi Lonjakan Gempa Bumi, Bisa Akibatkan Tsunami, Ini Penjelasan BMKG

Terjadi Lonjakan Gempa Bumi, Bisa Akibatkan Tsunami, Ini Penjelasan BMKG

95
Terjadi Lonjakan Gempa Bumi, Bisa Akibatkan Tsunami, Ini Penjelasan BMKG | Photo : Dok.Istimewa

DETIKEPRI.COM, JAKARTA – Beberapa kali terjadi lonjakan gempa bumi, hal ini dapat mengakibatkan terjadinya Tsunami dibeberapa daerah, untuk itu dipandang penting untuk melakukan pelatihan evakuasi dini.

Badan Meteorologi, Kalimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa terjadi lonjokan gempa bumi sejak tahun 2017 ada sekitar 7000 kali gempa bumi dalam setahun.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menekankan pentingnya melaksanakan gladi evakuasi gempa bumi dan tsunami, mengingat terjadi lonjakan kejadian gempabumi dalam beberapa tahun terakhir.

“Kejadian gempabumi sebelum tahun 2017 rata-rata hanya 4000-6000 kali dalam setahun, yang dirasakan atau kekuatannya lebih dari 5 sekitar 200-an. Namun setelah tahun 2017 jumlah kejadian itu meningkat menjadi lebih dari 7000 kali dalam setahun. Bahkan tahun 2018 tercatat sebanyak 11.920 kali kejadian gempa. Ini namanya bukan peningkatan, tapi sebuah lonjakan,” jelas Dwikorita, dalam pernyataan resmi Selasa (6/10/2020).

Pada hari ini, Selasa (6/10/2020) BMKG bersama dengan 24 negara lain serentak melakukan IOWave20, latihan mitigasi dan evakuasi dalam merespons sistem peringatan dini tsunami. Kegiatan 2 tahunan ini diselenggarakan dua tahunan oleh Inter-governmental Coordination Group/ Indian Ocean Tsunami Warning Mitigation System (ICG/IOTWMS)-UNESCO.

Menurut Dwikorita hal tersebut perlu diwaspadai, karena sebagian besar tsunami yang terjadi di dunia dipicu oleh gempabumi.

Oleh karena itu, perlu diperkuat sistem mitigasi gempabumi dan tsunami mengingat hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi kapan terjadinya gempabumi.

“Jadi intinya kita harus selalu waspada dan siap apabila sewaktu-waktu terjadi gempabumi dan tsunami. Inilah yang membuat kita harus selalu berlatih agar kita terampil/ cekatan, tidak canggung, tidak panik, dan tahu apa yang harus dilakukan seandainya terjadi gempabumi dan tsunami,” lanjutnya.

Dwikorita menambahkan, Sistem Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami telah dibangun di Indonesia sejak tahun 2008, dengan memasang ratusan jaringan sensor gempabumi yang diperkuat dengan Internet of Things (IoT), Super Computer dan Artificial Intelliget (AI), dan dilengkapi dengan Pemodelan Matematis untuk memantau kejadian gempabumi dan memprediksi Potensi Kejadian Tsunami sebagai akibat dari gempabumi tersebut.

Tinggalkan Balasan