Beranda Daerah Polemik Baru Warga Dayak Paser, Khawatir Bakal Tersingkir dari Tanah Adat, Akibat...

Polemik Baru Warga Dayak Paser, Khawatir Bakal Tersingkir dari Tanah Adat, Akibat Ibu Kota Baru

159
0
BERBAGI
Warga Dayak Pasesr khawatir wilayah adat mereka semakin sempit akibat proyek ibu kota baru, setelah sebelumnya bersinggungan dengan perusahaan sawit. | Photo : ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAY

DETIKEPRI.COM, KALIMANTAN – Perencanaan pemindahan Ibu Kota baru ternyata menambah penderitaan dan polemik baru bagi warga tempatan yang telah lama tinggal di wilayah tersebut, warga Dayak Paser bakal menuai masalah akibat pembangunan Ibu Kota Baru.

Setelah sekian lama selalu berkecamuk dengan para perusahaan yang telah merongrong hutan adat dan tanah adat suku Dayak Paser, kini warga Dayak Paser harus menerima kenyataan yang bakalan terusir dari tanah adatnya sendiri akibat perencanaan pembangunan Ibu Kota Baru yang telah di rancang Presiden Jokowi.

Setidaknya terdapat empat desa komunitas adat Dayak Paser di wilayah yang ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi pusat pemerintahan baru.

Terdapat pula 13 wilayah adat di sekitar ibu kota baru yang akan berpusat di Kecamatan Sepaku, PPU; dan Kecamatan Samboja, Kutai Kertanegara, merujuk pemetaan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara.

Namun pemerintah membantah bakal menggusur wilayah adat. Mereka berjanji memasukkan kepentingan warga Dayak Paser dalam rencana besar pemindahan ibu kota.

Nada suara Sabukdin tak bergairah saat membincangkan wacana ibu kota baru. Kepala Adat Paser di Sepaku ini mengaku terlanjur memendam antipati pada beragam program bertajuk pembangunan dan perekonomian.

Ibu kota baru, menurut Sabukdin, tak akan berbeda dengan alih fungsi hutan demi perkebunan kelapa sawit dan pengolahan kayu.

Artinya, kata dia, warga Dayak Paser kembali berpotensi kehilangan hutan yang menjadi sumber penghidupan mereka, dari pangan, papan, hingga persembahan untuk ritual sakral adat.

“Saya waswas kalau ibu kota benar dipindah ke sini, kecuali pemerintah menjamin tatanan adat, situs dan hak-hak kami tidak punah,” ujar Sabukdin kepada BBC News Indonesia, Kamis (07/09).

“Kami ingin daerah kami ramai, tapi bukan berarti kami menderita, hanya menonton.”

“Pendatang sudah hidup di tanah kami, kami tidak menikmati kemakmuran, tetap melarat dan bisa lebih melarat kalau ibu kota ada di sini,” tuturnya.

Empat desa di calon ibu kota baru yang dihuni warga adat Dayak Paser adalah Desa Sepaku, Semoi Dua, Maridan, dan Mentawir.

Baca Halaman Berikutnya
Komentar
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here