Beranda Ekonomi & Bisnis Pengusaha Jantungan, Ekonomi Indonesia Merosot Tajam

Pengusaha Jantungan, Ekonomi Indonesia Merosot Tajam

341
Pengusaha Jantungan, Ekonomi Indonesia Merosot Tajam | Photo : Ilustrasi/Istimewa

DETIKEPRI.COM, EKONOMI – Iklim ekonomi Indonesia sepertinya terlihat tidak bersahabat lagi, bahkan terpuruk ke level terendah, kondisi ini mengakibatkan pemerintah kembang kempis mengembalikan ekonomi stabil.

Terburuknya para pengusahaa Indonesia juga dibuat jantungan akibat lonjakan ekonomi yang kian menggambarkan penurunan drastis.

Kalangan pelaku usaha merespons pertumbuhan ekonomi kuartal kedua II-2020 tumbuh minus 5,32%. Mereka khawatir dengan capaian tersebut, apalagi bila pada kuartal III-2020 ekonomi masih minus.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Perdagangan Benny Soetrisno mewanti-wanti agar tidak terjadi minus kembali pada kuartal III yang saat ini sedang berjalan. Apalagi, Purchasing Manufacturing Index (PMI) Indonesia tergolong rendah.

“PMI kita kan belum menembus 50, kecenderungan negatif, turun nggak bisa ekspansi. Kalau nggak bisa ekspansi, pertumbuhan ekonomi nggak naik. Kenapa nggak ekspansi? karena daya beli ngga ada, bikin barang kalau nggak ada beli buat apa? Makanya stimulus pemerintah lewat perbankan udah disiapkan, tapi peminat sedikit, kita khawatir, kalau kuartal 3 minus lagi, berati kita masuk golongan resesi kan,” kata Benny dilansir dari laman CNBC Indonesia, Rabu (05/08).

Untuk memulihkan ekonomi tersebut, maka semua sendi atau sektor ekonomi harus dibangkitkan. Bukan hanya industri besar, namun juga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menyerap banyak tenaga kerja. Sayangnya, Benny melihat belum ada bantuan signifikan untuk memulihkan sektor ekonomi tersebut.

“Untuk UMKM masih business as usual pokoknya. Harus penuhi jaminan sekian, pokoknya standar bank, di lapangan sulit. Misal tukang sate yang saya temukan di Solo Pak Bejo biasa potong 4 kambing sekarang 2 kambing, karena yang beli nggak ada, nggak mungkin potong kambingnya. Kenapa? mungkin dia sudah dirumahkan atau terkena PHK,” sebutnya.

Konkretnya bukti kesulitan di lapisan bawah menjadi sinyal kuat bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal III harus positif. Dari data BPS, PDB Indonesia periode April-Juni 2020 terkontraksi -5,32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY).

“Terjadi kontraksi dalam, PDB Q1 kita sudah turun dalam meski year on year masih positif. Dan PDB kuartal II kontraksi negatif 5,32% (year on year),” kata Kepala BPS, Suhariyanto, Rabu (5/8/2020).

Tinggalkan Balasan