Beranda Liputan Khusus Syiar Islam Puasa Dzulhijjah, Tarwiyah, Arafah begini Niat, Dalil serta Keutamaannya

Puasa Dzulhijjah, Tarwiyah, Arafah begini Niat, Dalil serta Keutamaannya

1073
0

DETIKEPRI.COM, SYIAR – Sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Besar Muhammad S.A.W yang selalu berpuasai di Bulan Dzulhijjah, serta berpuasa Tarwiayah dan Arafah.

Niat Puasa Dzulhijjah boleh dilakukan pada pagi atau siang hari dengan catatan belum makan dan minum sejak pagi lalu terbersit keinginan untuk berpuasa.

Sedangkan pada puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa qadha dan puasa kaffarah atau puasa nadzar wajib dilakukan pada malam hari sebelum masuk waktu shubuh.

Istilah yang sering digunakan adalah tabyitunniyah, atau memabitkan niat. Maksudnya, di malam hari seseorang sudah harus berniat bahwa besoknya dirinya akan melaksanakan puasa.

“Ketentuan tabyitunniyyah ini hanya berlaku pada puasa wajib saja, seperti puasa Ramadhan, puasa nadzar, puasa qadha’ dan puasa kaffarah saja.

Sedangkan puasa-puasa sunnah, seperti puasa Senin dan Kamis, puasa ayyamul biiydh, puasa 6 hari bulan Syawwal dan seterusnya, tidak membutuhkan tabyitunniyah.

BACA JUGA :  Pesan Kamar dan Buka Puasa Bersama, Ascott Indonesia berikan Harga Spesial

Sehingga asalkan seseorang belum sempat makan dan minum sejak pagi, lalu tiba-tiba terbetik keinginnan untuk berpuasa, dia bisa langsung berpuasa,” kata Direktur Rumah Fiqih Indonesia, Ustaz Ahmad Sarwat Lc MA

Berikut bacaan niat puasa Dzulhijjah arab dan latin beserta artinya:

نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِيْ الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Arab-latin: Nawaitu shouma syahri dzil hijjah sunnatan lillahi ta’ala

Artinya: Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah Ta’ala.

Puasa Dzulhijjah merupakan puasa Sunnah yang dilakukan selama sembilan hari dari tanggal 1-9 di mana pada hari ke-8 dan 9 disebut dengan puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah.

Berikut Niat Puasa Tarwiyah

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِّلِه تَعَالَى

Arab-latin: Nawaitu shouma tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala

BACA JUGA :  DPRD Usulkan Pemasangan CCTV di Bus Trans Batam, Agar Ciptakan Rasa Aman Penumpang

Artinya: Saya niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah ta’ala.

Niat Puasa Arafah

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِّلِه تَعَالَى

Nawaitu shouma arafata sunnatan lillahi ta’ala

Artinya : Saya niat puasa sunah Arafah karena Allah Ta’ala.

Ustaz Hanif Luthfi Lc dalam bukunya berjudul “Amalan Ibadah Bulan Dzulhijjah terbitan Rumah Fiqih Publishing menjelaskan beberapa keutamaan 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah di antaranya puasa selama sembilan hari. Puasa adalah ibadah spesial.

Sampai-sampai para pelakunya diberi kesempatan untuk berdoa yang tak tertolak. Puasa sembilan hari pertama dalam bulan Dzulhijjah merupakan amalan yang disunnahkan.

Meski dalam Al-Qur’an disebutkan tentang keistimewaan 10 pertama malam bulan Dzulhijjah, tetapi untuk puasanya yang disunnahkan hanya 9 hari saja.

Adapun hari ke-10 bulan Dzulhijjah itu hari raya idul adha, di mana hari itu dilarang untuk melakukan puasa.

BACA JUGA :  Sandiaga Uno Mengaku Kurang Tidur, Padahal Besok Tes Kesehatan

Larangan berpuasa pada hari tersebut untuk memperbayak puasa selama tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah. Tentu, hari tarwiyah masuk di dalam rentang itu.

Sebagaimana hadits tentang kesunnahan puasa sembilan hari bulan Dzulhijjah: Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dari Sayyidina Abdullah ibn ‘Abbas, Rasulullah bersabda:

“مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ” -يَعْنِي عَشَرَ ذِي الْحِجَّةِ -قَالُوا: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: “وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعُ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ”

Tiada suatu hari pun yang amal saleh lebih disukai oleh Allah padanya selain dari hari-hari ini. Yakni sepuluh hari pertama dari Bulan Dzulhijjah.

Mereka (para sahabat) bertanya, “Dan juga lebih utama daripada berjihad di jalan Allah?” Rasulullah Saw. menjawab: