Beranda Liputan Khusus Opini Harga diri Terkoyak oleh Nafsu Kekuasaan Semata

Harga diri Terkoyak oleh Nafsu Kekuasaan Semata

1051
0
Harga diri terkoyak demi nafsu kekuasaan

DETIKEPRI.COM, OPINI – Tak lagi menjadi cerita beru dalam hal menghilangkan rasa malu dan harga diri demi kepentingan dan jabatan semata, bahkan berani membungkuk dan bahkan mencium kaki.

Demi jabatan dan kekuasaan sementara ditambah lagi pundi-pundi rupiah untuk menjadi kaya, tentu ini bukan barang lama yang ada di hamparan masyarakat kita.

Jabatan tinggi, kekuasaan dan kekayaan akan menjadi kesombongan yang tak berujung dan akan terus terjadi hingga waktu yang tak lagi berputar.

Orang-orang idealis akan musnah seiring iming-iming kekuasaan dan jabatan, bahkan tak perduli lagi hati nurani untuk merebut kekuasaan dan jabatan itu.

Dulunya kuat melawan ketidak adilan, namun setelah di berikan posisi dan jabatan hilang bagai tak berbegas dan akan sembah sujud terhadap junjungan.

Negara ini sedang kondisi tidak baik-baik saja terlebih lagi segala keputusan dan juga peraturan yang diterapkan terkesan menguntungkan segelintir orang dan mendapat pundi-pundi rupiah yang besar.

Terlebih lagi para elit politik yang dulu kukuh dalam menyuarakan aspirasi rakyat dan demi kepentingan rayat.

Pada akhirnya harus bertekuk lutut demi meloloskan hasrat dan nafsu kekuasaan yang terus bergelora dalam jiwa.

Tak lagi menjadi pendekar untuk bisa membantu kau terhimpit, namun justru menjadi pejahat yang tebar pesona seakan-akan mulia.

Tidak sedikit tontonan ini terjadi di negeri berlandaskan Pancasila, justru sangat sering berseliweran di jagat dunia maya dan juga jagat layar kaca.

Para pembela yang dulunya adala pembenci kekuasaan zolim, sangat anggun membela para pejabat yang telah merusak tatanan kebhinekaan.

Iming-iming kekuasaan dan jabatan tak dapat ditolak dan tentu gelap mata dan lupa segalanya bahwa dia berdiri di kaki orang-orang sengsara.

Setelah raih jabatan dan kekuasaan, lupa akan yang lama, lupa akan ucapan pemberontakan untuk membantu yang lemah.

Lupa akan ucapan kemarahan terhadap ketidak adilan, lupa akan semangat yang siap menggerakan para pejuang kebenaran.

Meruntuhkan para pelaku kezoliman. Hal ini siapa yang menjadi korban, tentu rakyat, tentu masyarakat, tapi sangat disayangkan.

Terkadang rakyat lupa bahwa pernah di tipu, terkadang rakyat lupa pernah di bohongi, terkadang rakyat lupa perna di injak-injak bahkan sampai tak bergerak lagi.

Hanya karena sekelumit rupiah dan hanya sebercak kopiah yang melekat dikepala dengan di bareng sal dan serban yang putih terang.

Inilah yang sebenarnya terjadi, rakyat terlalu baik untuk mereka para penghianat keadilan, rakyat terlalu polos untuk mereka para pejabat haus kekuasaan.

Kebaikan hati rakyat di manfaatkan untuk kepentingan sementara, kebaikan hati rakyat digunakan untuk meraup keuntungan semata.

Rakyat terlalu baik dan memberikan maaf kepada mereka yang salah, mereka yang telah menginjak-injak harga diri rakyat, mereka yang selalu menjadi rakyat sebagai landasan kekuasaan.

Sehingga pesta rakyat adalah pesta demokrasi yang menjadi pesta kematian jiwa dan hati nurani para pejabat ingkar janji.

Membongkar gelora jiwa yang terpatri dari sendi-sendi iblis kekuasaan, dan gila jabatan, untuk itu rakyat harus sadar.

Rakyat harus bangkit, rakyat harus mengerti, bahwa mereka hanya menjadi alas kaki untuk permadani yang indah yang akan di jejaki setelah mereka berdiri di kekuasaan nanti.

Rakyat harus jeli siapa yang benar-benar berpegang teguh terhadap hati nurani, dan juga berpegang teguh demi ke utuhan negara ini.

Bukan justru menggadaikan harga diri menggadaikan negeri dan menginjak-injak hati nurani demi sesuap nasi yang diambil dari pipi rakyat yang tertindas.