Beranda Politik MK Bakal Gelar Perkara Sengketa Pilpres Pada Hari Jum’at Mendatang

MK Bakal Gelar Perkara Sengketa Pilpres Pada Hari Jum’at Mendatang

160
0
BERBAGI
MK Bakal Gelar Perkara Sengketa Pilpres Pada Hari Jum'at Mendatang
MK Bakal Gelar Perkara Sengketa Pilpres Pada Hari Jum'at Mendatang | Photo : Istimewa/Net

DETIKEPRI.COM, POLITIK – Setelah melakukan beberapa verifikasi data dan kesiapan untuk jadwal sidang pada hari Jum’at, 14/6/2019). Sidang ini digelar dengan 9 hakim MK. Mahkamah Konstitusi diminta untuk tetap idenpenden bukan karena tekanan dan kepentingan golongan tertentu.

Namun mengedepankan kejujuran dan kebenaran, Makmah Konstitusi juga menerangkan bahwa tidak akan dapat di interpensi oleh pihak manapun dalam memutuskan sidang ini.

Dilansir dari BBC Juru bicara MK, Fajar Laksono, mengatakan dalam sidang itu sembilan hakim konstitusi akan mendengarkan dalil permohonan yang diajukan pemohon capres dan cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Jadi pemohon kan kemarin sudah menyerahkan permohonan tertulis, sudah teregistrasi, kesempatan pertama pemohon menyampaikan permohonannya itu kepada majelis hakim,” ujar Fajar Laksono dilansir dari bbc.com, Rabu (12/06).

Kalaupun ada penilaian bahwa permohonan itu tak memenuhi syarat, hakim MK akan tetap melanjutkan persidangan.

Menurut Fajar, sebaik atau seburuk apa pun dalil itu, menjadi kewenangan hakim konstitusi untuk memutuskan dalam sidang putusan 28 Juni 2019.

“Itu kewenangan hakim MK. Mau diperlakukan seperti apa, itu kewenangan MK yang kemudian ya harus melewati serangkaian persidangan. Kalau ada pihak-pihak minta (menolak gugatan) silakan saja jadi opini. Secara normatif itu kewenangan hakim MK,” jelasnya.

“Hakim MK tidak bisa didesak melakukan ini-itu,” sambungnya.

Fajar juga menegaskan, hakim konstitusi dalam memutus perkara sengketa mendasarkan pada tiga hal yakni fakta yang terungkap di persidangan, alat bukti, dan keyakinan hakim. Itu mengapa, Fajar meminta semua pihak, agar tidak “mendesak” para hakim di luar forum persidangan.

“Biarkan persidangan ada dinamika, perdebatannya. Nah itulah yang menjadi pertimbangan hakim dalam memutus.”

Lebih jauh, dia juga menegaskan sepanjang sengketa Pilpres, hakim konstitusi tidak pernah mengeluarkan putusan sela. Putusan semacam itu, kata dia, hanya berlaku untuk sengketa pilkada atau pemilu legislatif (pileg).

“Misalnya MK memutuskan memerintahkan KPU untuk melakukan pemungutan suara ulang di daerah tertentu atau penghitungan suara ulang. Itu putusan sela. Setelah itu dilaporkan ke MK, baru ada putusan akhir.”

Baca Halaman Berikutnya
Komentar
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here