Beranda Liputan Khusus Politik Elektabilitas Kurang, Survey Menang, Ini Siasat Politik Uang

Elektabilitas Kurang, Survey Menang, Ini Siasat Politik Uang

461
0
Lembaga Survey Politik
Foto : Ilustrasi Survey

DETIKEPRI.COM, POLITIK – Pesta Demokrasi masih berjalan 3 tahun lagi dari sekarang, sepertinya kasak kusuk dan gembar gembor politik mulai terasa dan terus menggeliat setiap harinya.

Bahkan banyak yang terus menyuarakan secara politik, dan ada yang dijegal dengan berbagai persoalan, bahkan hal yang tidak ada di ada-adakan untuk menggembosi lawan politik.

Politik hari ini riuh dengan perang survey, bahkan beberapa lembaga survey menunjukan dengan gamblang tentang elektabilitas seseorang.

Dasarnya jelas dengan pola survey, yang menggelitik terkadang survey yang belum bisa dipastikan keakuratannya menjadi landasan menentukan seseorang bisa menjadi pemimpin Indonesia.

Sebenarnya survey itu bagus, jika data yang dikelola adalah benar dan real bukan data yang diciptakan oleh sebuah lembaga untuk menaikan elektabilitas orang yang membayarnya.

Tidak ada lembaga survey yang bergerak tanpa ada kepentingan pundi-pundi untuk menghidupkan lembaganya. Hampir semua lembaga survey butuh pundi-pundi dan tidak bisa dinafikan.

Hanya bagaimana sebuah lembaga survey bisa melegitimasi dengan baik, dan bukan hanya sekedar survey pesanan ataupun survey ABS (Asal Bapak Senang).

Survey-survey seperti inilah yang nantinya akan menyesatkan para pemilihnya untuk meyakini dan mempercayai bahwa seorang calon bisa dijadikan sebagai pemimpin atau wakil rakyat.

Lantas adakah lembaga survey yang mampu berdiri secara independen, dengan data yang akurat dan diambil diseluruh daerah dengan sampling yang tepat.

Seberapa akuratkah sebuah lembaga survey dalam melegitimasi elektabiltas seorang calon yang akan masuk dalam kancah pemilihan.

Tentu ini harus dengan perhitungan yang matang dengan berbagai pertimbangan. Tidak sedikit pula sebuah lembaga survey tergerus dengan hasil yang diberikan kepada orang yang dijadikan sebagai sumber survey.

Terlebih lagi hasil survey realnya tidak sesuai dengan ekspektasi dari orang yang menginginkan survey tersebut.

Dan akan dikatakan sebagai survey abal-abal dan survey yang gak jelas, padahal pada kenyatannya itulah data yang sebenarnya.

Sehingga untuk bisa melancarkan usaha tersebut, lembaga survey harus memberikan data tambahan yang bukan sebenarnya untuk menciptakan sebuah kepuasan.

Hasilnya adalah menampilkan nilai terbesar dari hasil survey yang di wartakan secara besar-besaran, sehingga berpengaruh terhadap calon pemilih.

Dan tentu melegitimasi bahwa seorang calon pantas untuk dipilih dengan hasil survey tersebut. Hal ini tidak bisa dinafikan dan menjadi fakta saat ini.

Sehingga orang bisa menentukan siapa yang bakal jadi pemenang dengan survey tersebut, lantas seberapa akuratkah hal itu.

Atau ada tangan-tangan dewa yang bisa menyulap suara yang sebenarnya tidak banyak disukai oleh para pemilihnya.

Pada kenyataanya tidak sedikit upaya untuk meningkatkan elektabilitas dengan cara meningkatkan hasil survey tersebut.

Harus bisa lebih lues dalam mewartakan hasil survey jangan pula berbanding terbalik dari segi kenyataanya.

Saat ini rakyat sudah mulai cerdas dan mulai melek akan politik yang di obok-obok oleh kepentingan tertentu, karena pengalaman dan kesengsaraan telah dialaminya.

Sehingga mulai mensortir satu-persarsatu calon untuk bisa dijadikan perpanjangan tangan harapan rakyat, harapan baru dengan pemimpin baru tentu rakyat Indonesia mengharapkan seorang pemimpin yang mumpuni.

Untuk bisa memajukan negara ini, serta mampu mensejahterakan rakyat Indonesia secara adil dan merata seperti yang tertuang dalam Undang-Undang 1945 dan Pancasila.

Yang harusnya setiap pemimpin negara, wakil rakyat, harus sudah sadar dan mulai menggerakan tangannya untuk mencapai itu.