Beranda Daerah Kilas Balik 2019 : BMKG Sebut ada 11.573 Kali Gempa Terjadi di...

Kilas Balik 2019 : BMKG Sebut ada 11.573 Kali Gempa Terjadi di Indonesia Sepanjang 2019

4928
0
Kilas Balik 2019 : BMKG Sebut ada 11.573 Kali Gempa Terjadi di Indonesia Sepanjang 2019 | Photo : Ist/Net

DETIKEPRI.COM, NASIONAL – Sungguh mengejutkan tahun 2019 merupakan tahun bencana alam yang cukup banyak gempa bumi kecil dan besar terjadi sepanjang tahun 2019 hingga mencapai sebayak 11.573 kali gempa. Kejadian alam atau sering disebut becana alam ini cukup menjadi perhatian bagi kita semua.

Oleh sebab itu menjaga dan melesatarikan alam untuk dapat menjaga keseimbangan alam merupakan kewajiban bersama rakyat Indonesia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebutkan bahwa hingga Desember 2019, tercatat telah terjadi 343 kejadian banjir, 340 tanah longsor, banjir disertai tanah longsor di 5 lokasi, serta 554 kejadian puting beliung. Kemarau panjang dan kekeringan tahun ini turut memicu 52 kejadian kebakaran hutan dan lahan dan bencana asap.

Di samping itu, data kegempaan menyebutkan bahwa di tahun 2019 telah terjadi 11.573 kali gempa, di antaranya terdapat 344 kali gempa diatas M.5 (magnitudo 5) dan 17 kali gempa merusak. Berdasarkan peta aktivitas gempabumi (seismisitas) selama tahun 2019, tampak bahwa kluster aktivitas gempabumi paling padat terjadi di daerah Nias, Lombok-Sumba, Laut Maluku Utara, Ambon, Laut Banda, dan Sarmi-Mamberamo.

Sementara itu, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa kekeringan pada tahun 2019 yang berdampak pada sektor pertanian, sumber daya air, kehutanan, dan lingkungan ini turut dipicu oleh fenomena El Nino yang aktif dari September 2018 hingga Juli 2019 di Samudera Pasifik ekuator bagian tengah. Kemudian diikuti pula oleh fenomena Dipole Mode fase positif Samudera Hindia (IOD+) yang menguat sejak April 2019 hingga Desember ini.

Kekeringan tahun 2019, tambahnya, menjadi cukup parah salah satunya adalah karena lebih dinginnya suhu permukaan laut di wilayah Indonesia terutama bagian selatan >0.5°C dari kondisi normalnya pada periode Juni – November 2019. Suhu permukaan laut yang lebih dingin menyebabkan sulitnya pertumbuhan awan yang berpotensi hujan akibat kurangnya kadar uap air di atmosfer akibat rendahnya penguapan dari lautan.

“Secara umum, musim kemarau tahun 2019 menunjukkan kondisi lebih kering dari musim kemarau tahun 2018 dan acuan normal klimatologis tahun 1981-2010, meski tidak lebih kering dari kondisi musim kemarau tahun 2015 saat terjadi fenomena El Nino kuat pada waktu itu,” ujar Dwikorita. Dilansir dari bmkg.go.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here