Beranda Politik Cawapres dan Capres Harus Mempunyai Sinergitas dan Kontribusi Elektoral

Cawapres dan Capres Harus Mempunyai Sinergitas dan Kontribusi Elektoral

1025
0
BERBAGI
sekretaris jendral partai nasdem johnny g plate / foto inet

Detikepri.com, Jakarta – Untuk menentukan nama calon presiden ada sekian banyak faktor yang harus dipertimbangkan, termasuk siapa pasangan yang akan menjadi lawan Joko Widodo (Jokowi) di pemilihan presiden 2019 mendatang. Itulah yang menyebabkan hingga kini belum munculnya nama pendamping Presiden Joko Widodo. Menurut Sekretaris Jendral Partai NasDem Johnny G Plate hal tersebut dinilainya sesuatu yang wajar.

BACA JUGA :  Tabloid Indonesia Barokah, Andi Arif : Saya Curiga Ngabalin dan Hasto di Belakangnya

Lebih jauh Johnny menjelaskan meski NasDem menggunakan prinsip tanpa syarat untuk pilpres 2019 nanti kepada Jokowi termasuk pemilihan cari cawapresnya, namun ada sejumlah prinsip yang harus dipenuhi bagi calon wakil presiden yang akan mendampingi Jokowi.

Pertama, secara konstitusi presiden dan wakil presiden adalah satu kesatuan yang utuh atau dwi tunggal sehingga harus sesuai dengan presiden agar dapat menjalankan roda pemerintahan dan kenegaraan dengan baik.

BACA JUGA :  Politikus PKS Yakin Prabowo Berikan “Tiket” Nyapres ke Gatot

Salah satunya adalah calon tersebut harus sesuai dengan kebutuhan Indonesia di 2019-2024 nanti, termasuk dapat mengaddres dari isu dalam negeri maupun internasional terhadap kemajuan bangsa. Misalnya dari faktor luar negeri yang berkembang dengan cepat adalah adanya perubahan lingkungan strategis bahwa isu yang sebelumnya berkaitan dengan non state actor radicalisme menjadi isu nuklir.

BACA JUGA :  Politik Orang Gila, Bisakah Orang Gila Berpolitik?

Diterangkan Johnny, begitu juga pengaruh dari keputusan politik terakhir dari negara negara besar seperti China yang merubah konstitusinya dari pemerintahan 2 periode menjadi pemerintahan tanpa batas periode dengan posisi mereka sebagai negara super power. Sedangkan Amerika yang bergeser dari negara serba liberal menjadi serba proteksionalisme.

Baca Halaman Berikutnya
Komentar
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here