Beranda Berita Daerah Maraknya Penggarap Lahan Di Bintan Timur Meresahkan Pemilik Lahan

Maraknya Penggarap Lahan Di Bintan Timur Meresahkan Pemilik Lahan

40
0
Lahan

DETIKEPRI.COM, BINTAN – Permasalahan lahan bukan suatu permasalahan yang baru bagi Pemerintahan di Kabupaten Bintan, terutama yang sering terjadi di wilayah Kecamatam Bintan Timur, seperti yang saat ini sedang terjadi tepatnya di Kelurahan Sungai Enam, Kecamatan Bintan Timur.

Permasalahan ini terjadi diakibatkan oleh oknum penggarap lahan yang berada di Sungai Kalang tua, Kelurahan sungai Enam. Menurut ahli waris dari pemilik lahan yaitu saudara Topan saat ditemui oleh awak media di Tanjungpinang ( 19/02 ), Topan mengatakan ” lahan yang dikuasainya adalah milik orang tuanya yaitu Jamal Razali.

Dimana surat Alashak yang diterbitkan oleh Kecamatan Bintan Timur dengan nomor Register : 620/BT/X/1987 yang ditandatangani oleh Camat Bintan Timur, M. Ilyas, tertanggal 07 Agustus 1987, adalah surat atas nama Jamal Razali dan surat ini telah saya cek statusnya dikantor Camat Bintan Timur teregister. Jadi menurut Topan secara administrasinya status lahan tersebut benar penguasaannya atas nama orang tua saya.

Lahan

Dan anehnya pada saat saya melakukan pengecekan dilapangan lahan tersebut sudah digarap oleh pihak lain. Perlu disampaikan kata Topan untuk lahan tersebut yang luasnya lebih kurang 12. 312 meter persegi telah dipasang tanda batasnya ( patok ) namun patok tersebut sudah hilang, terang Topan.

Saya selaku ahli waris sebenarnya sangat kecewa, begitu mudahnya para penggarap mengklaim bahwa lahan yang digarapnya seakan akan benar  menjadi penguasaannya, sehingga mereka dengan mudah dan gampang menentukan biaya atas penggantian tanah garapannya. namun ya sudahlah, saya secara pribadi juga mengerti akan kondisinya terang Topan.

Namun sangat disayangkan ada salah satu penggarap dilahan saya yang bersikeras meminta biaya pergantian sebesar 70 hingga 100 juta, ini yang membuat saya tidak terima, sementara saya sudah menyampaikan jika si penggarap memiliki surat yang sah silahkan biar kita adu untuk mencari kebenarannya

namun sipenggarap tidak mau menunjukkan pembuktian surat penguasaan tanah, jika demikian saya merasa sipenggarap terkesan melakukan tindakan pemerasan kepada saya. Atas etikad baik, saya sudah mencoba memberikan solusi yang terbaik dengan mengganti, namun apabila si penggarap tetap bertahan dengan keinginannya maka tidak ada jalan lain bagi saya untuk menempuh jalur hukum, tutur Topan.

Masih menurut Topan kasus permasalahan tanah dengan pihak penggarap ini sering terjadi, saya berharap kepada Aparat Penegak Hukum, maupun Pemerintah setempat agar dapat mengambil tindakan tegas, karena dengan bermunculan penggarap penggarap lahan ini sangat meresahkan bagi pemilik lahan yang memiliki surat secara sah di pemerintahan. Dan tindakan ini harus segera dilaksanakan agar permasalahan permasalahan seperti ini tidak terjadi lagi, ucap Topan.