Beranda Politik 139 Petugas Pemilu Meninggal Dunia, Berasal dari 19 Provinsi

139 Petugas Pemilu Meninggal Dunia, Berasal dari 19 Provinsi

0
Anggota Kelompok Panitia Pemungutan Suara membawa kotak surat suara dari tempat pemungutan suara (TPS) pedalaman Suku Baduy di Kampung Cisaban, Lebak, Banten, Kamis (18/04). | Photo : ANTARA/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS

DETIKEPRI.COM, PEMILU – Kabar duka datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, tercatat ada sekitar 139 Orang petugas pemilu yang berasal dari 19 provinsi dinyatakan meninggal dunia.

Penyebab umum yang mengakibatkan petugas jatuh sakit dan meninggal dunia karena kelelahan, sebab pengurungan suara yang memakan waktu cukup lama.

“Jumlah update terakhir petugas penyelenggara pemilu yang tertimpa musibah itu sebanyak 139 orang meninggal dunia, kemudian 374 orang sakit, sakit ini bervariasi ya,” kata Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman, seperti dikutip kantor berita Antara.

Insiden meninggalnya petugas KPPS ini terjadi di 19 provinsi.

BACA JUGA :  Korban Jiwa Bertambah Jadi 222 Orang, Akibat Tsunami di Selat Sunda

Situs berita medcom.id menyebutkan bahwa sebagian besar yang meninggal sebelumnya jatuh sakit karena kelelahan.

Sebelumnya, Arief mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan evalusi terkait dengan personel KKPS yang meninggal dunia akibat tugas yang mereka emban.

“Memang pekerjaannya berat, memang pekerjaannya banyak, maka ya orang sangat mungkin kelelahan dalam menjalankan tugas,” kata Arief pekan lalu kepada detik.com .

Untuk para petugas KPPS yang meninggal dunia saat menjalankan tugas ini, Arief telah mengusulkan agar mereka mendapat santunan.

Arief mengatakan sejak awal durasi kerja para petugas KPPS telah diprediksi bakal sangat panjang.

BACA JUGA :  Antara Ratapan dan Kesedihan, Tergambar Dari Sudut Kota Yang Luluh Lantak

“Kalau dibikin kerjanya seperti kerja normal kantoran masuk jam 08.00 pagi pulang jam 04.00 sore, bisa nggak selesai pemilunya.

“Memang kerja penyelenggara Pemilu itu kerjanya overtime , makanya ketika kami memilih itu, memang nyari orang-orang yang sehat fisiknya, sehat mentalnya. Karena sehat fisiknya saja juga berisiko kalau orang ditekan kanan kiri gampang down , nggak bisa,” jelasnya.

Durasi penghitungan suara jadi penyebab utama
Ketua Komisi Pemilihan Umum ( KPU) Provinsi Jawa Barat, Rifqi Alimubarok, mengatakan, waktu penghitungan yang memakan waktu lama menjadi penyebab utama.

BACA JUGA :  Ratusan Bahkan Ribuan KTP Elektronik Berserakan Didalam Semak, di Cikande Kabupaten Serang

Menurut Rifqi, para petugas KPPS kelelahan lantaran rata-rata penghitungan suara baru selesai pukul 05.00 pagi. Apalagi satu hari sebelumnya, mereka harus menyiapkan tempat pemungutan suara dan logistik.

“Berdasarkan hasil pantauan di lapangan rata-rata itu selesai pukul 5 pagi, bahkan ada yang berlanjut sampai pukul 12 siang. Karena belum selesai menyalin hasil formulir yang cukup banyak. Dan itu kan tanpa jeda, apalagi kemudian mereka kebanyakan mempersiapkan TPS di H-1 jadi, otomatis kelelahan,” ungkap Rifqi, Sabtu (20/4) kepada Kompas.com.

Tinggalkan Balasan