Beranda Berita Daerah Ada Pencucian Uang di Penyelundupan Rokok, Ini Penjelasan Bea Cukai

Ada Pencucian Uang di Penyelundupan Rokok, Ini Penjelasan Bea Cukai

903
0
Bea Cukai Batam

DETIKEPRI.COM, BATAM – Pengungkapan kasus yang cukup menyita banyak pihak yakni penyelundupan rokok yang tidak memiliki cukai resmi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, tentu ini adalah tindakan yang dapat merugikan negara.

Terlebih lagi banyaknya peredaran rokok baik dari tingkat pedagang eceran hingga distributor besar yang justru melenggang dalam kegiatan ini dengan meraup keuntungan yang besar dan tidak harus membayar pajak resmi negara.

Baru-baru ini Bea Cukai Batam, berhasil mengungkapkan kasus terbaru yang ternyata ada tindak pidanan pencucian ungan di kegiatan penyelundupan rokok ilegal tersebut.

Jelas ada tangan besar yang berada dibelakang aktifitas ilegal ini, dan tentu saja keuntungannya juga tidak kecil hingga tangan besar tersebut berani melakukan investasi yang besar padahal ini penuh dengan risiko.

Lantas apa dan bagaiman ini bisa terjadi sehingga peredaran rokok ilegal yang dianggap sebagai rokok murah di kalangan masyarakat menjadi mulus dan lancar.

Jalankan fungsi pengawasan dalam mencegah masuknya barang-barang ilegal dan berbahaya ke daerah pabean Indonesia, Bea Cukai bekerja sama

dengan aparat penegak hukum (APH) lainnya berhasil mengungkap tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam aksi penyelundupan rokok impor ilegal menggunakan high speed crafts (HSC) di Perairan Batam, Kepulauan Riau.

Bea Cukai Batam

Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Askolani menjelaskan kasus tersebut terungkap saat Bea Cukai menggelar Operasi Laut Terpadu Jaring Sriwijaya Bea Cukai pada Oktober 2020.

Petugas patroli laut Bea Cukai menindak kapal layar motor (KLM) Pratama yang mengangkut sekitar 51.400.000 batang rokok impor ilegal merek Luffman yang dibawa dari Vietnam menuju Perairan Berakit, Kepulauan Riau, Indonesia.

Para pelaku diketahui melakukan pembongkaran muatan di tengah laut (ship to ship), dan memindahkan muatan ke beberapa HSC yang rencananya akan dibawa ke beberapa lokasi di wilayah Pesisir Timur Sumatra.

“Dari hasil penyidikan yang dilakukan oleh Kantor Wilayah (Kanwil) Bea Cukai Khusus Kepulauan Riau terhadap penyelundupan rokok impor ilegal tersebut, Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun dan Pengadilan Negeri Tanjung Pinang telah menetapkan lima belas orang tersangka yang terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Pasal 102 huruf (a) dan/atau Pasal 102 huruf (b) U Kepabeanan yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde),” ujarnya.

Bea Cukai Batam

Sebagai tindak lanjut penanganan kasus, Bea Cukai melalui Satgas TPPU Bea Cukai berkoordinasi dengan PPATK, Direktorat Jenderal Pajak, Kejaksaan, Bais TNI, Polisi Militer, TNI AD, dan instansi terkait lainnya melakukan pengembangan penyidikan.

Hasilnya pada bulan September 2021, kembali ditetapkan seorang tersangka berinisial LHD yang terbukti melakukan tindak pidana yang melanggar Pasal 102 huruf (a) dan/atau Pasal 102 huruf (b) UU Kepabeanan dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang periode tahun 2019 s.d. 2020.

“Pada akhir Agustus 2022 lalu, Kejaksaan Agung Republik Indonesia menyatakan hasil penyidikan telah lengkap (P-21), berkas perkara tersangka LHD ditetapkan sebagai kasus TPPU terbesar yang proses penyidikannya dilakukan oleh Bea Cukai, dengan potensi kerugian pendapatan negara mencapai satu triliun rupiah,” lanjut Askolani.

Saat ini, Satgas TPPU Bea Cukai telah berhasil melakukan asset recovery berupa 1 unit KLM Pratama GT210, 1 unit mobil, 1 unit kapal giant HSC 38 meter mesin MAN 3×1.800 HP, 5 unitHSC, 3 unit speedboat, serta uang tunai dalam bentuk rupiah dan dolar Singapura, dengan total nilai barang dan uang tunai mencapai 44,6 miliar rupiah.