Beranda Liputan Khusus Syiar Islam Ini Dia Sahabat Nabi yang Masih Hidup dan Berumur 1400 Tahun, Berikut...

Ini Dia Sahabat Nabi yang Masih Hidup dan Berumur 1400 Tahun, Berikut Kisahnya

639
0
Pohon Sahabi

DETIKEPRI.COM, SYIAR ISLAM – Mengulik tentang kisah-kisah sahabat Nabi Muhammad S.A.W tentu akan sangat menarik, dan menjadi tauladan penting untuk istiqomah berada dijalan ajaran Nabi Besar Muhammad S.A.W.

Kisah-kisah tersebut membuat kita tersentuh, baik itu perjuangan para sahabat yang mempertahankan dan membela Nabi Muhammad S.A.W serta menguatkan akan kebenaran Islam.

Ada salah satu sahabat Nabi Muhammad S.A.W yang hingga kini masih hidup dan sudah berumur 1400 tahun, lantas siapakah sahabat Nabi yang masih hidup hingga sekarang, berikut kisahnya :

Ada satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dipercaya masih hidup sampai sekarang ini. Yakni sebuah pohon yang berada di kawasan Buqa’awiyya. Pohon tersebut dikenal dengan nama ‘Pohon Sahabi‘ dan diberi julukan ‘The Only Living Sahabi‘.

Kisah Pendeta Bahira

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam mengisahkan cerita mengenai pendeta Bahira yang mengetahui tanda-tanda kenabian pada diri Rasulullah ketika masih anak-anak.

Suatu ketika Abu Thalib hendak bepergian bersama kafilah dagang ke Syam. Ternyata Muhammad ingin ikut, hati Abu Thalib pun terketuk. Diajaklah Muhammad oleh Abu Thalib beserta rombongannya.

Setibanya di Bushra, sebuah daerah di Syam. Ada seorang pendeta bernama Bahira yang menjadi rujukan ilmu bagi para pemeluk agama Nasrani. Ia menyendiri di biara semenjak menjadi pendeta, dan ia pun tak pernah keluar dari tempat itu.

Kelompok dagang Quraisy sering singgah di biara itu, dan pendeta Bahira tak pernah bicara bahkan tak pernah menampakkan diri kepada mereka.

Ternyata pada saat itu, saat mereka singgah di dekat biara, Bahira sudah menyiapkan banyak makanan. Kemungkinan penyebabnya karena sesuatu yang ia lihat dari dalam biara.

Ahli sejarah menduga bahwa ketika dalam biaranya, Bahira melihat Muhammad berjalan di antara rombongan dan ada awan yang menaungi mereka.

Kafilah dagang Quraisy berhenti dan bernaung di bawah pohon di dekat biara. Lagi-lagi Bahira melihat awan menaungi pohon itu, dan dahan-dahannya merunduk di atas Muhammad sehingga ia bisa bernaung.

Pendeta Bahira turun dari biaranya dan mengutus seseorang untuk menemui rombongan dan mengajak mereka menyantap hidangan yang telah disiapkan. Ia berpesan agar semua orang dalam kelompok untuk datang tanpa terkecuali; anak kecil, orang dewasa, hamba sahaya, ataupun orang merdeka.

Akhirnya para anggota kafilah berkumpul di biara. Diam-diam Bahira mengamati Muhammad. Ia memperhatikan dengan cermat, menelisik seluruh tubuhnya, hingga menemukan sifat-sifat kenabian pada dirinya.

Selesai makan, orang-orang Quraisy berpencar, lalu Bahira mendekati Muhammad dan bertanya, “Nak, demi Lata dan Uzza aku akan bertanya kepadamu, dan engkau harus menjawab pertanyaanku.”

Para sejarawan meyakini bahwa Muhammad menjawab, “Janganlah engkau bertanya kepadaku atas nama Lata dan Uzza. Demi Allah, tidak ada yang paling kubenci selain keduanya.”

Bahira berkata, “Demi Allah, hendaknya engkau menjawab pertanyaan pertanyaanku.” Muhammad menjawab, “Silakan bertanya.”

Ia pun menanyakan segala sesuatu yang ingin diketahuinya. Muhammad menjawab semua pertanyaannya, dan ternyata jawaban yang diberikannya selaras dengan sifat-sifat kenabian.

Pendeta Bahira memeriksa punggung Muhammad, dan ia melihat ada stempel kenabian di antara kedua bahunya, di tempat yang sesuai dengan yang diketahuinya. Ibnu Hisyam berkata, “Tanda kenabian itu seperti bekas bekam.”

Setelah urusannya dengan Muhammad selesai, Bahira berpaling kepada pamannya, Abu Thalib. Ia bertanya, “Anak siapa ini?”. Abu Thalib menjawab, “Dia anakku.”