Beranda Berita Daerah Kemenkeu Alokasikan Rp.7,8 Triliun untuk Bansos Ramadhan

Kemenkeu Alokasikan Rp.7,8 Triliun untuk Bansos Ramadhan

457
0
Bansos

DETIKEPRI.COM, JAKARTA –  Bansos (bantuan sosial) yang diberikan kepada masyarakat yang kurang mampu terlebih lagi pada bulan Ramadhan tentu akan membantu meringankan beban dan kesusahan masyarakat dalam kondisi ekonomi yang tinggi saat ini.

Hal inilah yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwan melalui Kementerian Keuangan mengalokasikan dana sebesar Rp.7,8 Triliun untuk Bansos.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan instansi teknis terkait untuk mengantisipasi terjadinya kenaikan inflasi pada Ramadan dan Idulfitri 1444 Hijriah. Secara musiman, hari besar keagamaan nasional menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya inflasi nasional.

Sebab pada momen tersebut terjadi kenaikan fluktuasi harga dan kenaikan permintaan masyarakat. Sementara itu, tiga komoditas pangan seperti beras, cabai, dan minyak goreng pelan-pelan harganya terus merangkak naik sejak awal tahun.

Bahan pangan, makanan jadi, serta transportasi akan menjadi kelompok komoditas yang memberikan dampak kepada inflasi di bulan Ramadan dan Idulfitri pada 2023.

BACA JUGA :  Arief Fadilah dan Aunur Rafiq Diperiksa KPK Atas Dugaan Kasus Suap Dana Perimbangan

“Jadi mungkin ini yang perlu kita waspadai bersama,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Jakarta pada Senin (13/3/2023).

BPS menyatakan, perubahan konsumsi makanan/minuman masyarakat terjadi pada 23 hari atau tiga minggu sebelum Idulfitri. Tingkat konsumsi makanan/minuman masyarakat akan mencapai puncak pada H-19 sebelum Idulfitri.

Akhir efek Ramadan terlihat sekitar dua hari sebelum Idulfitri beralih ke konsumsi transportasi pulang kampung. Tren kenaikan konsumsi mulai hilang kira-kira 15 hari atau dua minggu setelah Idulfitri.

Merujuk dari data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), ada tiga komoditas pangan yang cenderung meningkat konsumsinya di bulan Ramadan.

BACA JUGA :  Pengawasan di Gudang Distributor BPNT, KORTEKS Kota Batam Lakukan Sidak

Yaitu, daging sapi, daging ayam ras, dan cabai merah. Ketiga komoditas ini sudah mulai menunjukkan peningkatan harga menjelang Ramadan.

Pudji Ismartini menuturkan, bila ditarik ke tahun-tahun sebelumnya, maka inflasi tertinggi terjadi di bulan Ramadan, kecuali 2020 dan 2021, karena adanya masa pandemi Covid-19.

Berdasarkan historis, sebagian besar kota mengalami inflasi pada Ramadan, dengan inflasi tinggi dominan terjadi di kota-kota di luar Pulau Sumatra dan Jawa. Sementara itu, BPS mengungkapkan ada empat komoditas yang menjadi penyumbang inflasi di pekan kedua Maret 2023.

BPS mencatat, komoditas cabai rawit mengalami kenaikan harga di 109 kabupaten/kota pada minggu kedua Maret 2023. Ada 10 kabupaten/kota dengan potensi kenaikan harga cabai rawit tertinggi

yaitu Bolaang Mongondow Selatan (Sulawesi Utara/Sulut), Buton Utara (Sulawesi Tenggara/Sultra), Minahasa (Sulut), Tomohon (Sulut), Gorontalo (Gorontalo), Minahasa Selatan (Sulut), Bolaang Mongondow (Sulut), Minahasa Utara (Sulut), Bone Bolango (Gorontalo), dan Kepulauan Sangihe (Sulut).

BACA JUGA :  Pro Kontra Hukuman Mati Bagi Koruptor di Masa Pandemi

Komoditas beras mengalami kenaikan harga di 92 kabupaten/kota pada minggu kedua Maret 2023. Terdapat 10 kabupaten/kota dengan potensi kenaikan harga beras tertinggi

yaitu Manggarai Timur (Nusa Tenggara Timur/NTT), Alor (NTT), Manggarai Barat (NTT), Buton Utara (Sultra), Manggarai (NTT), Kolaka Utara (Sultra), Muna (Sulawesi Selatan/Sulsel), Wajo (Sulsel), Buton Tengah (Sultra), dan Malaka (NTT).

Komoditas cabai merah mengalami kenaikan harga di 80 kabupaten/kota pada pekan kedua Maret 2023. Ada 10 kabupaten/kota dengan potensi kenaikan harga cabai merah tertinggi

yaitu Nias (Sumatra Utara/Sumut), Subulussalam (Aceh), Polewali Mandar (Sulawesi Barat/Sulbar), Enrekang (Sulsel), Pinrang (Sulsel), Toli-toli (Sulawesi Tengah/Sulteng), Maluku (Maluku Tengah), Soppeng (Sulsel), Pakpak Bharat (Sumut), dan Mamasa (Sulbar).