Beranda Politik Hoax Jadi Komoditi Politik, Siapa Pelaku Sebenarnya dan Apa Kepentingannya?

Hoax Jadi Komoditi Politik, Siapa Pelaku Sebenarnya dan Apa Kepentingannya?

289
0
BERBAGI
Hoax atau Berita bohong, Fake News | Photo : Ilustrasi/Net

DETIKEPRI.COM, POLITIK – Penyeberan berita bohong dan tidak ada sumber yang benar selalu terjadi di linimasa media sosial dan bahkan group-group jejaring sosial lainnya. Bahkan berita bohong atau palsu selalu hadir memberikan kabar terbaru untuk mendapat simpati dari semua orang yang menerimanya.

Hoax atau berita bohong tidak pernah absen dari dinding media sosial, lantas apa fungsi berita ini dalam dunia pertarungan dalam politik.

Benarkah berita bohong atau hoax dapat menjadi komoditi efektif untuk meningkatkan popularitas ataupun keterkenalan seseorang?

BACA JUGA :  KPU Belum Tentukan Format Sosialisasi Capres 2019

Menyerang dan saling menjatuhkan dalam politik adalah hal lumrah untuk mendapat simpatik dan perhatian para pemilih, terutama pemilih pemula.

Lantas Hoax siap menerjang segala lini untuk mendapatkan simpatik atau hoax hanya di jadikan sebagai komoditi pemecah belah?

Pemberantasan Hoax oleh pihak yang berwajib sudah pada titik hukum tertinggi yang akibatnya penyebar hoax atau pembuatnya akan mendapat ganjaran hukuman kurungan dengan durasi waktu yang disesuaikan oleh keputusan pengadilan.

Undang-Undang ITE menjadi payung hukum untuk menjerat para pelaku peyebar atau pembuat hoax tersebut, bahkan ITE terkesan menjadi senjata pamungkas untuk dapat menghapuskan para pelaku dan mengurangi penyebarannya.

BACA JUGA :  Sandiaga Uno Mengaku Kurang Tidur, Padahal Besok Tes Kesehatan

Pemilu Presiden pada 17 April mendatang menjadi salah satu zona yang kuat untuk terjadi penyebaran hoax dan berita bohong dengan tujuan menjatuhkan satu calon atau mempertahankan calon yang lain.

Hingga kini banyak tersebar berita di media-media tentang penangkapan penyebar hoax dan pelaku pembuat hoax itu sendiri.

Namun hingga kini masih belum diketahui tujuan utama pembuat hoax, dan siapa sebenarnya pengendali berita bohong tersebut.

BACA JUGA :  Tito Jadi Bakal Cawapres, itu Terguantung Jokowi

Jelas motif ini menjadi pertanyaan besar, mengapa hoax menjadi komoditi utama dalam politik terutama untuk pemilu presiden 2019.

Hoax sudah bergulir sejak 2014 lalu, dan terlihat secara jelas hoax sangat terkenal sejak 4 tahun terakhir, dan hoax menjadi senjata paling ampuh untuk saling menghujat dan menyebarkan kebencian.

Mampukah Polisi dan Pihak Berwenang Memberantas Hoax?

Polisi cukup responsive dalam penanganan hoax, hingga batas akhir januari 2019 terlihat penangkapan penyebar dan pembuat berita ujaran kebencian ini sudah dilakukan sebaik mungkin.

Baca Halaman Berikutnya
Komentar
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here