Beranda Berita Automotive Daur Ulang Baterai seperti apa, Jika Produksi Mobil Listrik di Produksi Massal

Daur Ulang Baterai seperti apa, Jika Produksi Mobil Listrik di Produksi Massal

1078
0
Daur Ulang Baterai seperti apa, Jika Produksi Mobil Listrik di Produksi Massal

DETIKEPRI.COM, AUTOMOTIVE – Produksi Mobil Listrik terus di upayakan untuk menjadi kenderaan yang ramah lingkungan dan mengurangi emisi di udara. Dengan Emisi yang terus berkurang di udara akan membantu udara yang bersih dan sehat tentunya.

Ada persoalan baru tentang mobil listrik jika di produksi massal, tentu terkait catu daya yang berasal dari baterai litium yang juga bakal di produksi secara massal juga tentunya.

Mobil listrik dan baterai litium: Bagaimana upaya mendaur ulang baterai yang kebanyakan akan menjadi sampah?

Saat dunia mulai berencana untuk memakai kendaraan listrik dan menyimpan sumber daya terbarukan, ancaman besar mengintai: apa yang akan terjadi pada baterai-baterai litium yang lama?

Ketika derum yang nyaris tak bersuara dari mesin listrik mulai menggantikan suara berisik knalpot berasap di kendaraan yang kita pakai, beberapa perubahan dalam dunia yang kita kenal terjadi.

BACA JUGA :  Toyota Land Cruiser 2020 Pakai Mesin Bensin V6

Bau pom bensin minyak fosil yang menyengat akan digantikan dengan stasiun pengisi baterai yang tak menguarkan bau tak enak.

Sementara itu, tempat-tempat generator energi raksasa yang menyimpan minyak bumi kemungkinan akan dialihfungsikan sebagai tempat penyimpanan baterai raksasa yang suatu hari nanti dapat menyuplai energi hijau untuk seluruh kota.

Masa depan daya listrik ini lebih dekat dari yang kita bayangkan. General Motors mengumumkan rencananya untuk berhenti menjual mobil bertenaga bensin pada 2035. Target Audi adalah berhenti memproduksinya pada 2033, dan banyak pabrikan mobil lainnya mengikuti.

Bahkan, menurut BloombergNEF, dua per tiga perusahaan mobil dunia akan menjual mobil listrik pada 2040. Sistem ini berkembang pesat di seluruh dunia berkat kemajuan teknologi penyimpanan baterai.

Meskipun ini terlihat ideal dalam mencapai energi berkelanjutan, ada satu masalah besar.

BACA JUGA :  Yuk Intip Xpender Export Dengan Xpender Lokal, Ini Bedanya

Saat ini baterai ion litium (Li) merupakan jenis yang paling banyak dipakai oleh mobil listrik, dan mega baterai ini juga digunakan untuk menyimpan energi yang terbarukan. Permasalahannya, baterai litium sangat susah didaur ulang.

Salah satu alasannya adalah, metode daur ulang baterai yang lebih tradisional, seperti baterai timbal-asam, tidak bekerja dengan baik untuk baterai Li.

Baterai Li biasanya lebih besar, lebih berat, jauh lebih kompleks dan berbahaya bila dibongkar dengan cara yang salah.

Di pabrik daur ulang baterai yang ada sekarang, bagian-bagian baterai akan dihancurkan sampai berbentuk bubuk, kemudian bubuk itu akan dilelehkan (proses pyrometallurgy) atau dilarutkan dengan asam (proses hydrometallurgy).

Tapi baterai Li terbuat dari berbagai komponen berbeda yang bisa meledak bila tidak dibongkar dengan seksama dan hati-hati. Bahkan ketika baterai Li sudah berhasil dibongkar sekalipun, produk sisanya tidak akan mudah untuk dipakai kembali.

BACA JUGA :  Diprediksi Ignis Akan Jadi Buruan Kids Zaman Now

“Metode saat ini, yakni menghancurkan semuanya dan mencoba memurnikan campuran kompleks. Ini sangat mahal dan menghasilkan produk sisa yang tak ada nilainya,” kata Andrew Abbot, ahli kimia fisik di Universitas Leicester.

Akibatnya, mendaur ulang baterai litium akan lebih mahal ketimbang menambang lebih banyak litium untuk membuat baterai baru. Juga, dalam skala besar, cara murah untuk mendaur ulang baterai Li jauh tertinggal dari produksinya yang massal.

Hanya ada sekitar 5% baterai Li yang didaur ulang secara global, artinya kebanyakan baterai ini akan menjadi sampah.

Tapi seiring dengan meningkatnya permintaan akan mobil listrik, dan seperti yang telah diprediksikan, dorongan untuk mendaur ulang lebih banyak baterai litium kemudian ditujukan pada industri baterai dan kendaraan bermotor.