Beranda Politik Pesan Terakhir Ferry Yunus : Harus Teliti, Ini Urusan Nasib Rakyat, Petugas...

Pesan Terakhir Ferry Yunus : Harus Teliti, Ini Urusan Nasib Rakyat, Petugas KPPS Yang Meninggal Dunia

332
0
BERBAGI
Mimin Sumarni menceritakan suaminya yang pulang malam dan mengalami serangan jantung pada pagi harinya. | Photo : bbc.com

DETIKEPRI.COM, POLITIK – Banyak petugas pemilu 2019 yang meninggal dunia membuat fakta baru bahwa sejarah buruk pemilu pada periode ini harus menjadi intropeksi semua pihak, bahwa pemilu serentak bukan solusi terbaik dalam pencapaian demokrasi.

“Harus teliti, ini kan urusan negara. Ini urusan nasib rakyat ke depan,” kata Mimin menirukan kata-kata suaminya saat terakhir kali berpesan kepada warga di TPS 02 Menteng saat pencoblosan 17 April lalu.

Perempuan berusia 47 tahun, mengatakan suaminya tak menunjukkan tanda-tanda sakit sebelum akhirnya tutup usia.

“Cuma dia ada sakit gigi. Sudah 45 tahun, pasti sakit gigi karena bolong,” katanya.

Mimin Sumarni masih ingat betul pesan terakhir suaminya, Fery Yunus, sebelum menghembuskan napas terakhir satu hari setelah bekerja sebagai petugas KPPS di TPS 02 Menteng, Jakarta Pusat. dilansir dari bbc.com

Yunus termasuk di antara 144 petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal sejauh ini menurut Komisi Pemilihan Umum, KPU.

Petugas yang sakit mencapai 883 orang sampai Rabu (24/04) yang tersebar di 25 provinsi dan mereka diperkirakan meninggal karena kelelahan dan memiliki penyakit, menurut KPU.

Namun sejauh ini belum ada catatan medis terkait penyebab kematian para petugas.

Anggota KPU, Evi Novida Ginting mengatakan data kematian ini didapat dari laporan penyelenggara pemilu tingkat KPU kabupaten dan kota.

“Laporan dari kabupaten/kota menyampaikan ke provinsi. Dan provinsi menyampaikan kepada kita,” kata Eva.

Yunus mengganti salah satu anggota KPPS yang sedang sakit pada hari pemilu itu. Yunus membantu istrinya, Mimin Sumarni yang bertugas sebagai ketua KPPS.

“Karena pas penghitungan sampai malam, mungkin kelelahannya di situ. Ada yang lihat dia pukul-pukul pinggang. Lelah,” cerita Mimin.

Penghitungan suara di TPS itu selesai pukul 23.00 WIB dan Fery Yunus pulang ke rumah sekitar pukul 01.00 WIB setelah mengantar kotak suara ke kantor kecamatan.

Saat di rumah, Fery tak menunjukkan tanda-tanda sakit dan masih bercanda, cerita Mimin Sumarni.

“Sempat minta air teh hangat, ya sudah saya bawakan dua. Eh, kata dia, banyak banget. Ya, kan buat suamiku tercinta,” tambahnya menirukan apa yang dia katakan kepada suaminya.

Baca Halaman Berikutnya
Komentar
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here