Beranda Liputan Khusus Politik Gegara tak dapat Coattail Effect, PPP terancam gagal melaju ke Senayan

Gegara tak dapat Coattail Effect, PPP terancam gagal melaju ke Senayan

85
0
Coattail Effect, PPP terancam tak lolos ke senayan

DETIKEPRI.COM, POLITIK –  Parta Persatuan Pembangunan (PPP) di prediksi berbagai lembaga survei bakal tidak dapat peluang untuk mendapatkan kursi Senayan, pasalnya, partai berlambang ka’bah ini di prediksi tidak akan lolos Electoral Threshold karena dibawa ambang batas penetapan.

Direktur Trias Politika Strategi Agung Baskoro mengatakan dukungan PPP terhadap pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden 2024 Ganjar Pranowo – Mahfud MD tak mampu menarik suara elektoral. Perbedaan ideologi partai dan paslon menjadi penyebabnya.

Ganjar-Mahfud ini kan secara institusional capres lebih mengidentikkan kaum nasionalis, sementara PPP partai islam. Memang Coattail effect yang bisa diharapkan mengalir ke PPP bisa menjadi kurang maksimal karena PPP ini kalau di close step irisan masssanya lebih banyak ke Anies Baswedan ketimbang Ganjar,” ujar Agung dilansir dari CNNindonesia.com Rabu (27/12).

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang diprediksi sejumlah lembaga survei bakal gagal lolos di Pemilu 2024. Partai tua berlambang Ka’bah yang kini dibawah komando Mardiono itu disebut memperoleh elektabilitas kecil dibawah ambang batas parlemen (parliamentari threshold).

BACA JUGA :  Departemen Luar Negeri AS mendukung rakit terbaru penjualan senjata Saudi, UEA, Yordania

Hasil survei terbaru bulan desember 2023 yang dilakukan Center for Strategic and Internasional Studies (CSIS) menempatkan PPP di posisi kesembilan dan diprediksi tidak lolos parlemen dengan elektabilitas sebesar 3,5 persen.

Sementara survei yang di gagas Indikator Politik Indonesia mencatat PPP menjadi satu dari delapan partai yang diperkirakan tidak lolos ambang batas parlemen 4 persen dan gagal masuk DPR di Pemilu 2024.

PPP berada di urutan kedelapan dengan elektabilitas 2,8 persen. Survei serupa juga dilakukan Litbang Kompas yang meraih elektabilitas 2,4 persen.

Delapan partai yang tak lolos ke DPR adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Perindo, Partai Buruh, PBB, Partai Ummat, Parta Garuda, Partai Gelora, dan Partai Hanura.

BACA JUGA :  Mampukan Anies dan Cak Imin, Melenggang ke Istana 2024?

Sementara itu, Polling Institute mencatat 10 partai yang diprediksi tidak lolos ke DPR, satu diantaranya adalah PPP dengan elektabilitas 3,5 persen.

Gagal dari Ganjar, Irisan ke Anies

Sejumlah pakar politik mengungkapkan sejumlah akar masalah yang membuat PPP terancam gagal masuk DPR lewat pemilu 2024 berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga.

Salah satunya adalah PPP gagal mendapat coattail effect atau efek eor jas dari Pilpres 2024.

“PPP ini memang sempat dilanda konflik internal sehingga membuat kekuatan partai terganggu dan terpecah konsentrasinya, sehingga sampai hari ini untuk memenangkan PPP bai di pileg maupun pilpres menjadi kurang menyatu, kurang berpadu-badan.” Kata Agung.

Menurut Agung, PPP telah keliru mengambil strategi untuk Pilpres dan Pileg 2024. Keputusan tersebut, lanjut Agung diperparah dengan konflik internal partai berlambang ka’bah tersebut.

BACA JUGA :  Wajah Sumringah Djarot Berubah Kecut setelah Bertemu PPP

Ia juga menyoroti kepemimpinan Mardiono dan Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PPP Sandiaga Uno yang menurutnya telah kehilangan arah.

Ia memandang ada kebingungan di internal partai dalam mengampanyekan paslon yang didukung karena tidak beririsan dengan massa PPP.

“Strategi kampanye pilpres dan pileg di kampanye tidak terintegrasi. Beda sama Gerindra dan PDIP. Jadi, ketika Ganjar-Mahfud yang dicalonkan yang dapat suara kan PDIP, bukan PPP, jadi tidak terintegrasi,” imbuhnya.

“Saya melihatnya tidak terintegrasinya strategi PPP di pileg dan pilpres akhirnya menyebabkan PPP hari ini dipotret oleh beragam survei kredibil menjadi partai belum lolos sementara ini,” lanjut dia.

Mardiono gagal konsolidasi

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menilai terdapat tiga persoalan mendasar tubuh PPP. Persoalan pertama, menurut dia, menggulingkan Suharso dari pucuk kepemimpinan dan memilih Mardiono sebagai penggantinya.