JAKARTA. EKBIS — Layanan beli sekarang bayar nanti atau buy now pay later (BNPL) di sektor pembiayaan terus menunjukkan pertumbuhan signifikan sepanjang awal 2026.
Lonjakan ini mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap akses pembiayaan yang cepat dan fleksibel. Namun di balik tren positif tersebut, regulator dan pelaku industri mengingatkan adanya potensi risiko yang perlu diantisipasi, terutama terkait kemampuan bayar konsumen.
Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai pembiayaan BNPL di sektor multifinance hingga Februari 2026 telah mencapai Rp12,59 triliun.
Angka ini tumbuh sebesar 53,53 persen secara tahunan (year on year/YoY). Sementara itu, rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) gross tercatat berada di level 2,79 persen.
Sebelumnya, pada Januari 2026, pertumbuhan BNPL bahkan sempat menyentuh angka yang lebih tinggi, yakni 71,13 persen YoY.
Tren tersebut memperlihatkan bahwa layanan paylater semakin diminati masyarakat, khususnya karena kemudahan akses yang ditawarkan melalui platform digital.
Didorong Ekosistem Digital dan Kebutuhan Fleksibel
Pertumbuhan pesat BNPL tidak terlepas dari perkembangan teknologi digital yang semakin masif. Kemudahan dalam mengakses layanan keuangan tanpa harus datang ke kantor fisik menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan pengguna.
Selain itu, kebutuhan masyarakat terhadap pembiayaan yang fleksibel juga ikut mempercepat adopsi layanan ini. Segmen usia produktif, termasuk generasi muda dan pekerja baru, menjadi kelompok yang paling banyak memanfaatkan BNPL.
Tidak hanya itu, masyarakat yang belum sepenuhnya terjangkau layanan perbankan (unbanked dan underbanked) juga menjadikan paylater sebagai alternatif pembiayaan.
Melihat tren tersebut, OJK memproyeksikan bahwa penyaluran pembiayaan BNPL akan tetap tumbuh sepanjang 2026. Meski demikian, regulator menekankan pentingnya penerapan prinsip kehati-hatian oleh perusahaan penyedia layanan.
OJK juga terus memperkuat regulasi, salah satunya melalui penerbitan POJK Nomor 32 Tahun 2025 yang mengatur tata kelola, manajemen risiko, serta perlindungan konsumen dalam industri BNPL.
Selain itu, aturan turunan juga tengah disiapkan, termasuk terkait batas usia, penghasilan, serta plafon pembiayaan bagi pengguna.
Risiko Gagal Bayar Jadi Sorotan
Di tengah pertumbuhan yang pesat, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) mengingatkan bahwa risiko utama dari layanan BNPL adalah potensi gagal bayar.
Ketua Umum APPI, Suwandi Wiratno, menekankan pentingnya sistem persetujuan kredit yang kuat, mengingat seluruh proses dilakukan secara digital tanpa tatap muka.
Menurutnya, kemudahan akses menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, layanan ini membantu masyarakat mendapatkan pembiayaan secara cepat.
Namun di sisi lain, kemudahan tersebut berpotensi mendorong perilaku konsumtif jika tidak diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai.
Ia juga menyoroti bahwa layanan BNPL dapat diakses kapan saja, bahkan di luar jam kerja, yang membuat masyarakat lebih mudah tergoda untuk bertransaksi tanpa perencanaan matang. Jika tidak dikontrol, akumulasi transaksi kecil dapat berkembang menjadi beban finansial yang cukup besar.
Karena itu, APPI mendorong perusahaan penyedia BNPL untuk lebih aktif memberikan edukasi kepada masyarakat terkait penggunaan layanan secara bijak.
Konsumen juga diimbau untuk menghitung kemampuan finansial sebelum mengambil pembiayaan agar tidak terjebak dalam utang berlebih.
Pentingnya Keseimbangan dan Penggunaan Produktif
Selain aspek risiko, pelaku industri juga diingatkan untuk menjaga keseimbangan dalam pertumbuhan bisnis BNPL. Pembiayaan tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga perlu mendukung aktivitas produktif yang dapat meningkatkan kemampuan ekonomi pengguna.
Dengan demikian, pertumbuhan industri tidak hanya cepat, tetapi juga sehat dan berkelanjutan. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan secara keseluruhan.
Peran Teknologi dalam Mitigasi Risiko
Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, menilai bahwa selain risiko gagal bayar, ancaman lain yang perlu diwaspadai adalah fraud serta kualitas analisis kredit (underwriting). Untuk itu, perusahaan perlu memperkuat sistem manajemen risiko berbasis teknologi.
Beberapa langkah mitigasi yang disarankan antara lain penggunaan credit scoring berbasis data alternatif, penerapan limit kredit yang adaptif, serta pemantauan perilaku pembayaran pengguna secara berkala.
Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dinilai semakin penting untuk meningkatkan akurasi analisis risiko.
Kolaborasi antara pelaku industri dan regulator juga menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem BNPL yang sehat dan terpercaya.
PayLater sebagai Solusi Keuangan Jangka Pendek
Meski memiliki risiko, layanan BNPL tetap dinilai sebagai solusi keuangan jangka pendek yang efektif. Fleksibilitas pembayaran serta kemudahan akses tanpa kartu kredit membuat layanan ini semakin populer di kalangan masyarakat.
Salah satu perusahaan yang melihat tren positif ini adalah Kredivo Finance Indonesia. Perusahaan tersebut mencatat peningkatan signifikan dalam penggunaan layanan paylater, terutama selama periode Ramadan 2026.
Pertumbuhan volume transaksi mencapai 27 persen, sementara nilai transaksi meningkat 26 persen secara tahunan. Selain itu, jumlah pengguna baru juga mengalami kenaikan hingga 31 persen, menunjukkan semakin luasnya adopsi layanan ini.
Menariknya, pola penggunaan paylater mulai menunjukkan perubahan ke arah yang lebih terkontrol. Mayoritas pengguna memilih tenor pendek, terutama satu bulan, yang mengindikasikan bahwa layanan ini digunakan sebagai alat pengelolaan arus kas jangka pendek.
Rata-rata nilai transaksi per pengguna berada di kisaran Rp800 ribu hingga Rp1,5 juta, dengan frekuensi penggunaan sekitar 4 hingga 5 kali. Hal ini menunjukkan bahwa paylater tidak hanya digunakan untuk pembelian besar, tetapi juga untuk kebutuhan sehari-hari.
Edukasi dan Pengawasan Jadi Kunci
Di tengah perkembangan yang pesat, seluruh pihak sepakat bahwa edukasi dan pengawasan menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan industri BNPL.
Perusahaan diharapkan menerapkan prinsip responsible lending, sementara masyarakat perlu meningkatkan kesadaran dalam mengelola utang.
Dengan kombinasi regulasi yang kuat, inovasi teknologi, serta literasi keuangan yang memadai, layanan paylater diharapkan dapat terus berkembang secara sehat dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian.
Ke depan, industri BNPL diprediksi tetap tumbuh, meski dengan laju yang lebih moderat. Fokus pun akan bergeser dari sekadar ekspansi menuju peningkatan kualitas portofolio, profitabilitas, serta pengelolaan risiko yang lebih matang.
Sumber : bisnis.com
Editor : Putra Piasaulu

Saya seorang Wartawan di DETIKEPRI.COM yang dilindungi oleh Perusahaan Pers bernama PT. Sang Penulis Melayu, dan mendedikasikan untuk membuat sebuah produk berita yang seimbang sesuai kaidah Jurnalistik dan sesuai Etik Jurnalistik yang berdasarkan Undang-Undang Pers.





