Beranda Liputan Khusus Sejarah dan Budaya Sejarah Islam : Perkembangan Intelektual

Sejarah Islam : Perkembangan Intelektual

1098
1
Photo : Dok.Istimewa

DETIKEPRI.COM, SYIARSejarah intelektual Islam klasik dilandasi oleh tersedianya semangat ilmiah dalam Al-Qur’an dan Hadist Nabawi. Orang hanya perlu mengingat bahwa ayat Al-Qur’an yang pertama diterima oleh Nabi Muhammad S.A.W

Mengandung perintah untuk membaca :Iqra’ dari perspektif histyoris posisi pertama ini jelas signifikan. Lalu di berbagai bagian dari kitab suci Al-Qur’an dengan mudah ditemukan perintah untuk mengoptimalkan penggunaan akal-budi manusia untuk memikirkan.

Merenungkan, mengati atau meneliti segala sesuatu yang ada di alam. Kehidupan Nabi Muhammad S.A.W pun dengan tegas menunjukan betapa besar apresisasinya terhadap aktivitas keilmuan.

Jadi kedua sumber utama ajaran Islam secara terpadu memberi fondasi yang sangat kokoh bagi pengembangan aktivitas intelektual oleh umat Islam.

Sejarah intelektual umat Islam diawali dengan pemeliharaan yang cermat terhadap setiap penggal ayat Al-Qur’an yang diterima oleh Nabi Muhammad S.A.W, sejak awal pemeliharaan ini telah melibatkan dua modus sekaligus : Penghafal dan Penulis.

BACA JUGA :  Sanggar Radath Sri Tanjung Tarempa, Tetap Exis Dan Terus Berkarya

Maka sejak periode paling awal di sekeliling Al-Qur’an tumbuh komunitas Huffazh dan juga kelompok para penulis. Kemudian, pemeliharaan ini meningkat menjadi pembakuan dan pembukuan Al-Qur’an pada masa kekuasaan Khilafah Utsman Ibn Affan.

Hal yang sama juga dilakukan terhadap Hadist Nabawi, meskipun pada waktu yang sedkiti agak kebelakang. Lalu di seputar dua sumber utama tersebut (Al-Qur’an dan Hadist) muncullah pengkajian akademik yang kemudian menumbuhkan rumpun ilmu-ilmu Al-Qur’an (‘Ulum al Qur’an) dan rumpun ilmu-ilmu hadist (‘Ulum al-Hadits).

Perkembangan masyarakat Islam yang sangat pesat pada masa klasik mengharuskan tersediannya penafsiaran dan perumusan ajaran Islam dalam berbagai konteks dan kondisi sosiologis yang sangat dinamis.

BACA JUGA :  Tolak Pengakuan Kesultanan Bentan, Ini Tanggapan Anak Bumi Putra Kesultanan Riau Lingga

Hal ini kemudian menumbuhkan berbagai cabang ilmu pengetahuan keagaman, yang oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali disebut sebagai kelompok ilmu-ilmu keagamaan (al-ulum al-syar’iyyah).

Kelompok ilmu keagamaan ini mencakup, mislanya : Ulumul Qur’an, Ulumul Hadits, Kalam, Ushul Fikih, Fikih, Tasawuf dan Akhlaq. Melalui aplikasi ilmu-ilmu keagamaan tersebut, umat Islam berhasil membangun penafsiran ajaran Islam yang dinamis dalam menyahuti perkembangan sejarah yang ada.

Sejumlah nama besar intelektual di bidang ini mewarnai sejarah intelektual Islam Klasik. Sekedar contoh dapat disebutkan : Ibn Abbas dan Ibn Jarir Al-Thabari (‘Ulum Al-Qur’an); Muhammad ibn Isma’il Al-Bukhari dan Muslim Al-Hajjaj (‘Ulum Al-Hadits); Abu Hanifah dan Muhammad Ibn Idris al-Syafi’i (Ushul Al-Figh); Abu Al-Qasim Al-Qusyayri dan Abu Hamid Al-Ghazali (Tasawuf)l atau Ibn Miskawayh (Akhlaq).

Semangat intelektual umat Islam zaman klasik tidak terbatas pada pengembangan ilmu-ilmu keagamaan semata. Al-Qur’an sendiri mengandung banyak sekali perintah untuk melakukan penelitian terhadap berbagai fenomena alam : bumi, gunung, lembah, air, binatang, lautan, langit, dan seterusnya.

BACA JUGA :  Kang Ibing Sang Legenda Sunda

Perintah teologi ini kemudian terpadu dengan kebutuhan praktis operkembangan umat Islam dalam berbagai bidang, lalu membentuk faktor pendorong pengkajian ilmiah di bidang filsafat dan kealaman.

Dalam proses perluasan kekuasaannya, umat Islam memasuki wilayah-wilayah yang kaya akan warisan ilmu kuno, seperti Syria, Palestina, Mesir, Persia. Segera saja umat Islam menyadari potensi yang sangat besar dalam warisan Yunani dan Persia tersebut.

Lalu dengan berbagai cara umat Islam berupaya mengumpulkan warisan ilmiah tersebut. Strategi besar yang dilakukan oleh umat Islam klasik adalah penerjemahan warisan ilmiah kuno tersebut dalam bahasa Arab.

1 KOMENTAR

Komentar ditutup.