Beranda Syiar Islam Tausyiah Puasa Ke-22 : Syarat, Rukun, dan Pembatal I’tikaf

Tausyiah Puasa Ke-22 : Syarat, Rukun, dan Pembatal I’tikaf

840
0
BERBAGI
Foto : Ilustrasi

DETIKEPRI.COM, SYIAR ISLAM – Sejak kecil orang tua kita senantiasa mengajarkan keutamaan i’tikaf. Banyak para orang tua mengajak anak-anak dan istrinya beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Mengapa? I’tikaf memiliki keutamaan dan keagungan sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Secara literal (lughatan) kata الاعْتِكاف berarti الاحتباس (memenjarakan, Mukhtar Ash Shihhah 1/467). Ada juga yang mendefinisikannya dengan kalimat: حَبْسُ النَّفْسِ عَنْ التَّصَرُّفَاتِ الْعَادِيَّةِ (menahan diri dari berbagai kegiatan yang rutin dikerjakan, Al Mishbah al Munir 2/424). Dalam terminologi syariat para ulama berbeda-beda dalam mendefinisikan i’tikaf dikarenakan perbedaan pandangan dalam penentuan syarat dan rukun i’tikaf (Fiqh Al I’tikaf hal. 24).

BACA JUGA :  Riba Menjerat Anda Menuju Kefakiran

Namun demikian, kita bisa memberikan definisi yang umum bahwa i’tikaf adalah;

الْمُكْث فِي الْمَسْجِد لعبادة الله مِنْ شَخْص مَخْصُوص بِصِفَةٍ مَخْصُوصَة

“Berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah kepada Allah yang dilakukan oleh orang tertentu dengan tata cara tertentu” (Syarh Shahih Muslim 8/66, dikutip dari Al Inshaf fi Hukm Al I’tikaf halaman 5).

Dalam beberapa ayat i’tikaf ditujukan kepada sikap tekun beribadah atau berdiam diri di tempat peribadatan dalam rangka persembahan kepada Allah Azza Wa Jalla. Baik itu dalam rangka menyembah Allah seperti yang dilakukan kaum muslimin ataupun menyembah berhala sebagaimana yang dilakukan kaum musyrikin.

BACA JUGA :  Dua Tempat Hiburan Malam Disegel Pemko Batam, Hari Pertama Ramadhan

Perhatikanlah beberapa ayat di bawah ini.

وَانْظُرْ إِلَى إِلَهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا لَنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا

“Dan lihatlah Tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut berupa abu yang berserakan’ (QS. Thaha 97).

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُون

BACA JUGA :  Tausyiah Puasa Ke-17 : Jalan Menuju Surga

“Dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istrimu) itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa” (QS. Al Baqarah 187).

Di sini kita lebih spesifik memahami bahwa i’tikaf artinya berhenti atau berdiam di dalam masjid dengan syarat-syarat tertentu untuk semata-mata berniat beribadah kepada Allah. I’tikaf sunah dilakukan setiap waktu, tetapi yang paling utama (afdhal) dilakukan selama bulan Ramadan.

Baca Halaman Berikutnya
Komentar
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here